Saat Ini dan Masa Lalu

15 Agustus 2012 at 10:11 pm Tinggalkan komentar

Tiba-tiba teringat masa-masa tahun 90-an, saat itu aku masih sekolah dasar dan belum mengerti banyak tentang uang. Saat itu semuanya terasa mudah, ketika ayah dan ibu menjalani rumah tangga mereka dengan sederhana. Tiap sore aku bersama teman-teman bermain di rawa dan bukit di sekitar pemukiman kami, semuanya nyaris tanpa biaya sebab kami memakai bahan-bahan permainan seadanya. Hari-hari libur terkadang menikmati api unggun dan bakar ikan hasil tangkapan.

Membuat rakit, merangkai pancing dan joran, merakit layangan, menyusun meriam sundut, dan belajar memanah adalah sebagian kenangan yang tidak terlupakan bersama teman-teman dari bukit, rawa, sampai ke pantai. Kegiatan yang sekarang dianggap kuno, kotor, dan berbahaya untuk anak sekarang.

Saat itu berjalan kaki belasan kilometer pulang pergi sekolah adalah rutinitas sederhana, masuk hutan naik bukit dan turun ke rawa bukan sesuatu yang ditangisi, tapi justru membuat kita bangga dan semakin kuat secara fisik maupun mental. Setiap lembar buku tulis harus dihemat, buku pelajaran dan seragam dari kakak-kakak kita dirawat dengan sangat hati-hati.

Sekarang dua puluh tahun dari saat itu, ketika setiap orang tua memroteksi anaknya dalam rumah dengan berbagai alasan, anak-anak bermain dengan alat permainan yang canggih, bersih, di dalam ruangan yang sempit. Tempat bermain mereka semakin berkurang, hampir setiap petak tanah yang dulunya nyaris tidak berharga sekarang diperhitungkan dengan uang yang tidak sedikit. Kalau dulu kita bisa berlari bebas di halaman rumah, sekarang untuk sepetak tanah pun terkadang orang harus mencicilnya selama bertahun-tahun.

Sekolah kini identik dengan pengeluaran dan biaya mahal, walaupun disebut gratis tapi biaya sampingannya tidak juga sedikit. Kalau dulu SD inpres banyak berdiri, sekarang justru sekolah swasta yang menjamur, menggambarkan betapa sektor pendidikan sudah menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Anak-anak semakin enggan melangkahkan kakinya sendiri. Halaman sekolah yang dulunya luas sekarang dipenuhi kendaraan bermotor, belum termasuk kemacetan di sekitar sekolah ketika jam masuk dan pulang sekolah berlangsung. Demikian juga tempat ibadah yang semakin sesak dengan kendaraan dibandingkan jamaahnya. Jasa lahan parkir pun bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele karena perputaran uangnya yang tidak lagi sedikit.

Sebenarnya ke arah mana peradaban ini kita bangun? Adakah kondisi sosial masyarakat ini membaik ataukah mengarah pada pembusukan?

Buatku peradaban yang baik adalah yang membuat mayoritas masyarakatnya bahagia dengan kehidupannya sendiri betapapun sederhananya itu. Bukan peradaban yang membuat banyak jiwa menderita dan semakin sakit hingga harus mencari pelarian, dimana setiap hari kita cemas akan masa depan, dipusingkan oleh keinginan yang tidak ada habisnya betapapun makmurnya kita dimata orang lain.

Apalah arti modernisasi dan angka pertumbuhan ekonomi semata apabila kita justru semakin menderita, tidak punya teman sejati, putus asa, selalu mencari pelarian, dan makin dekat dengan dosa.

Entry filed under: Melamun. Tags: , , , , .

Baru Ingat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: