Satu Bulan Itu Sebentar

01 Februari 2009 at 9:05 am 2 komentar

Baru saja awal tahun ini pulang dari Bandar Lampung seminggu setelah itu ada panggilan ke Palembang. Bagiku amat melelahkan karena tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di sana.

Waktu aku belum bekerja dulu mengira betapa enaknya jadi orang sibuk dan punya jadwal yang padat. Bisa menginap di hotel mewah, punya banyak relasi, kemana-mana bawa tiga cellphone, dan tas berisi notebook dan dokumen-dokumen berharga….

Sejauh ini kenyataannya aku merasakan betapa pahitnya jadi orang seperti itu. Harus menahan diri dan hanya punya waktu sangat sedikit untuk diri sendiri. Lebih gawat kalau kita jadi orang di level bawah yang harus mengerjakan semuanya sendirian. Lebih lagi kalau dapat kawan yang tidak kooperatif.

Sejak pertama kali bekerja dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah dan beban kerja yang sedang-sedang saja, sekarang ini sudah beberapa kali lipat yang cukup untuk sewa rumah setahun, tapi aku jadi kehilangan banyak sekali waktu luang. Hampir lima tahun ini aku belum pernah bisa cuti, libur terbatas, dan setiap saat selalu cemas dengan gangguan telepon. Aku punya tiga nomor, tapi ketiganya lebih sering aku simpan di tas yang membuatnya penuh misscall dan sms.

Kemarin sempat beberapa kali menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Padahal dulu waktu SD aku sering menyewa kolam hotel untuk sekedar berenang sama teman-teman, tapi sekarang tidak ada waktu untuk mendekatin. Aku lebih sering di luar hotel, di ruang rapat, atau mengurung diri di kamar bersama notebook. Notebook berisi aplikasi-aplikasi yang membuatmu hampir frustasi dan nyaris gila sendiri.

Seminggu di Palembang yang aku kunjungi hanya Duta, J-CO, ruang rapat kanwil, aula, dan sejumlah teman lama. Acara selama seminggu tiap hari mulai pagi sampai larut malam dengan sejumlah jeda limabelas menit. Beberapa petugas dari inspektorat itu dulu temanku kuliahku di Jakarta, tapi beda nasib, sepertinya aku lebih beruntung dapat tempat tenang seperti Lubuklinggau meski harus bekerja dengan beberapa “bekicot” yang sangat lambat. Paling tidak aku bisa menikmati beberapa makanan enak juga donat dan coklat hangat. Seandainya saja para “bekicot” itu tidak buru-buru mengajak pulang tentu aku berencana menginap beberapa hari lagi di Palembang untuk liburan singkat.

Toh di jalan para “bekicot” itu bilang pelan-pelan saja padahal mereka dari hari pertama maunya cepat pulang dengan berbagai keluhan. Benar-benar birokrat ga berguna tu “bekicot”, nyusahin orang lain aja. Aku lebih setuju mereka dipotong satu-satu atau minimal dicopot dini aja biar beban negara ini berkurang.

Entry filed under: Kerjaan, Persinggahan. Tags: .

Liburan di Lampung Baru Ingat

2 Komentar Add your own

  • 1. Puan Malaya  |  12 Februari 2009 pukul 5:37 pm

    hape saya cuma 2.. pengen seh nambah atu cuma nyari yang pulsanya kaga perlu ngisi n bayar..ada gak ya ?

  • 2. Mizu  |  12 Februari 2009 pukul 7:39 pm

    … ada, hape mainan…. ato remot tv:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: