Liburan di Lampung

25 Januari 2009 at 11:04 pm Tinggalkan komentar

Lubuklinggau-Lampung

Tahun baru kemarin dapat undangan resepsi pernikahan temen di Lampung, sekalian menikmati pergantian tahun kami berangkat ke Lampung naik mobil. Sebenarnya saya sudah sering mondar-mandir lewat lampung tapi untuk keliling kotanya memang belum pernah. Katanya ayah saya sih punya kebun cengkeh di Lampung, tapi beliau sendiri tidak pernah bercerita tentang itu. Kami sekeluarga bahkan tidak pernah diajak ke kota itu, selain jauh, beliau juga sibuk dan liburan pun lebih baik beristirahat saja di sekitar Malang. Perjalanan kami dari Lubuklinggau dimulai pagi hari sekitar jam tujuh beriringan tiga mobil Kuda, APV, dan Terios. Kuda di depan sebagai pemandu, sopirnya orang Lampung. APV di belakang penuh berisi manusia termasuk dua sopir yang sedang mengantuk. Sementara itu aku dan seorang teman naik Terios, dia tidak bisa menyetir jadi aku pegang kemudi sampai ke Lampung… mobil itu kosong… tidak ada yang berani jadi penumpangku….. Jalan ke arah Lampung melalui jalur tengah, seingat saya lewat Lahat, lalu Muara Enim, Baturaja, Martapura, Metro, terakhir Lampung. Jalan ini termasuk lancar, relatif sepi dan beraspal rata meskipun ada beberapa lubang menganga tapi masih termasuk bagus untuk Jalan Lintas Sumatera. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah hutan dan sungai, sangat berbeda dengan di Jawa yang didominasi rumah-rumah manusia. Lebar jalan kira-kira hanya empat mobil, banyak tikungan dan kontur jalan yang tergolong berbahaya. Tidak heran sepanjang perjalanan kami sering menjumpai kecelakaan “live” persis di sekitar kami. Paling tidak ada lima kecelakaan yang benar-benar kami lihat sendiri dalam perjalanan, syukur saja kami selamat. Ada motor yang saling beradu di depan kami, dua orang sekarat dan sepertinya langsung tewas sementara penumpangnya pingsan dengan beberapa ruas tulang yang sepertinya patah…. Ada lagi truk yang tiba-tiba menabrak pohon persis di depan pos polisi, ada lagi sepeda yang melawan arus lalu tiba-tiba ditabrak Panther sampai bemper depan mobil itu melayang, ada lagi bus yang terjungkir ke jurang…. singkatnya pemandangan mengerikan itu membuat sopir depan kami menjaga kecepatan pada angka 60 km/h…. membuat kami sampai di penginapan tepat tengah malam.

Di Kota

Bandar Lampung adalah kota yang ramai, tapi liburan itu sepertinya agak sepi. Kurang lebih seperti Palembang, seperti kota besar pada umumnya kota ini juga punya penyakit dalam tata kota yang berantakan dan kurang enak dinikmati. Hiburan kami adalah pantai pasir putih (pantai panjang seperti di Bengkulu), waterboom dan marina di sebuah komplek perumahan. Entah kenapa komplek ini sepi, padahal lokasinya bagus di pinggir laut dan punya dermaga kapal kecil… ada banana boat dan sejumlah kapal pribadi. Hiburan malam yang menggoda sudah menjerumuskan dua sopir kami dalam rasa kantuk yang hebat. Dalam perjalan itu hanya ada empat orang yang bisa menyetir termasuk aku, akibatnya kelompok kami terpecah dua jadi kelompok APV dan kelompok Terios. Kelompok APV yang belum pernah melihat kota dan hiburan malam nekat menguras tenaga pada acara-acaranya sendiri, sedangkan Terios memilih beristirahat dan menikmati hiburan bertema air dan laut yang ringan-ringan saja. Toh dalam keadaan ngantuk dan capek kita tidak bisa menikmati apa-apa.

Resepsi

Acara pernikahan teman kami itu berlangsung di masjid, resepsinya di aula masjid itu juga. Yah… mungkin itu ide yang bagus… praktis dan singkat. Kelompok Terios datang tepat waktu sejak akad nikah, sedangkan APV datang menjelang acara bubar, dengan mata mereka yang lelah.

Pulang

Setelah tiga hari di Bandar Lampung rasanya sebentar saja, seperti liburan yang sebelum-sebelumnya selalu saja ada yang terasa kurang. Setelah membeli oleh-oleh kopi dan pala dari pabrik Suseno, besoknya kami pulang. Kuda ke Jakarta, APV dan Terios pulang ke hutan. Kali ini Terios yang di depan, perjalanan lancar meski masih dihias sejumlah lakalantas di sekitar kami. Dengan kecepatan yang cukup kita bisa mencapai Lubuklinggau dalam waktu kurang dari sepuluh jam, kalau tidak ada yang berteriak-teriak ketakutan mungkin bisa kurang dari itu….. Tapi dari tahun ke tahun jalanan yang sempit itu makin ramai apalagi sepeda motor yang asal bisa pegang stang saja. Maghrib kami sudah sampai di Lubuklinggau.

Entry filed under: Persinggahan. Tags: .

Lubuklinggau-Palembang Satu Bulan Itu Sebentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: