Lubuklinggau-Palembang

08 Desember 2008 at 9:15 pm 1 komentar

Ada undangan menghadiri dua acara di kantor wilayah, pergi ke Palembang naik Panther jadi sopir seperti biasa. Ternyata memang tidak banyak orang yang mahir menyetir, tapi tidak mengapa ini lebih enak daripada harus naik sepeda motor.

Perjalanan dari Lubuklinggau ke Palembang normalnya ditempuh dalam waktu kira-kira lima jam perjalanan darat. Jalanan cukup sepi menyusuri pinggiran sungai Kelingi yang mengarah ke Musi. Jalanan beraspal datar, tidak banyak mobil yang lewat, dibandingkan di Jawa bisa dibilang sangat sepi. Sesekali kita bertemu dengan truk-truk pengangkut sawit, karet, atau pasir, bahkan kayu gelondongan.

Jalanan sampai dengan Sekayu adalah jalanan yang relatif rata, meski kalau anda rasakan pembangunan jalan ini belum serius. Masih banyak lubang “jebakan” di antara jalanan yang kelihatan mulus itu, ditambah gelombang-gelombang kecil di sepanjang jalan. Kalau anda meletakkan botol di dasbor mobil pasti tidak akan bertahan lama.

Paling berbahaya dari jalan ini selain lubang-lubang surprise adalah belokan tajam datar dan tanpa rambu. Belokan semestinya dibuat dengan derajat kemiringan tertentu dengan perhitungan fisika agar aman, tetapi kebanyakan belokan di sana dibuat datar bahkan ada beberapa yang kemiringannya keliru sehingga sangat berbahaya bagi yang melintas cepat. Kalau anda sopir baru atau belum mengenal daerah ini saya sarankan berhati-hatilah bila melihat tikungan. Dalam kecepatan 40 km/h saja mobil kami sudah berdecit keras.

Dibandingkan jalur ke Bengkulu yang jumlah tikungannya sangat banyak, meskipun sedikit tetapi tikungan di jalur ke Palembang ini relatif lebih berbahaya. Banyak bekas-bekas kecelakaan di sepanjang jalur ini dibandingkan yang ke Bengkulu.

Sampai dengan Sekayu jalan rata, selebihnya sampai ke Betung kita harus ekstra waspada. Oh, ya kalau ke Sekayu cobalah mampir ke kotanya. Arsitektur dan penataan kota yang sepi ini terlihat begitu modern dan cantik.

Jalanan Sekayu-Betung kurang bagus meski beraspal, waspada lubang mulai lubang kecil sampai yang seukuran mobil. Ini adalah setengah perjalanan yang paling melelahkan. Jangan kaget kalau anda tiba-tiba bertemu celeng seukuran anak sapi. Pastikan rem bekerja dengan baik. Anda mungkin bertemu dengan burung-burung unik, atau tiba-tiba ada monyet yang melintas jalanan.

Selain tikungan maut ada juga tanjakan maut, dimana jalanan itu menanjak landai dan turun lagi cukup halus. Kalau anda melamun mungkin mengira jalanan di depan itu sepi, padahal di puncaknya jalanan itu turun lagi menyembunyikan kendaraan yang mungkin ada di depan sana.

Lewat dari itu ada jalan pintas komplek perkantoran yang relatif lurus. Di jalan ini anda bisa merasakan kalau pada kecepatan tinggi mobil anda akan sering terbang karena jalanannya memang tidak benar-benar rata dan datar.

Sampai di Palembang bersyukur karena bisa sampai dengan selamat, kota ini terasa sumpek dengan kemacetan cukup tinggi dan tata kota yang agak membingungkan. Ga tau juga deh.

Beruntung malam itu Sandjaya masih ada kamar kosong, hujan deras dan angin kencang menyambut kami. Minggu ini sampai bulan Februari nanti adalah saat-saat yang melelahkan. Penjelasan langkah-langkah strategis dan berbagai petunjuk administrasi menambah daftar panjang pekerjaan rumah. Aku dengar ada perusahaan lain yang membayar bill kami di hotel, tapi aku tidak tahu pasti. Entahlah. Rasanya aku ingin berendam air panas sebentar….

Entry filed under: Melamun, Persinggahan. Tags: .

Godaan Pandangan Pertama Liburan di Lampung

1 Komentar Add your own

  • 1. aini  |  11 Februari 2009 pukul 12:17 pm

    ………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: