Lubuklinggau-Bengkulu

11 Oktober 2008 at 11:19 pm Tinggalkan komentar

Seminggu ini lumayan menyenangkan. Pulang ke kota ini hari Sabtu minggu kemarin lewat Bengkulu, hari Senin langsung disuruh jemput tamu juga di Bengkulu.

Asiknya bisa bolak-balik Bengkulu-Lubuklinggau tiga kali seminggu, tentu saja aku yang nyetir.

Perjalanan melewati beberapa kota yang asik, seperti Padang Ulak Tanding, Curup, Kepahiang, terutama kota tujuan Bengkulu. Jalannya termasuk mulus, tapi berkelok-kelok dan termasuk sepi. Pemandangan yang indah hutan-hutan, sawah, kebun, dan danau juga sungai dari perbukitan melintas taman nasional kerinci seblat.

Banyak pohon buah-buahan seperti durian, rambutan, kelapa, dan nangka yang betebaran di pinggir jalan. Rimbun penuh buah belum dipetik, gadis-gadis duduk di bawahnya bercengkerama bersama di atas kursi-kursi kayu. Pagi itu beberapa pemuda dan orang tua sambil menggendong keranjang bambu yang ditambat ke dahi berangkat ke kebun. Udaranya segar dan sejuk.

Perjalanan dengan mobil rata-rata 3-4 jam, kalau cepat bisa 2 jam. Buatku itu menyenangkan, apalagi dengan minibus sekelas Avanza, Xenia, dan Terios yang cukup stabil di tikungan tajam dengan kecepatan 60-80 km/h. Ban berdecit-decit di tikungan dan seorang sopir cadangan di sampingku memegang erat handle pintunya, sementara penumpang di belakang pucat pasi muntah-muntah berkantung-kantung. Tentu saja di perkampungan kami akan pelan karena tidak ingin membuat penduduk takut. Perjalanan aman dan tepat waktu.

Singkatnya karena menghemat banyak waktu kami jadi punya kesempatan mengunjungi beberapa objek wisata di Bengkulu seperti Rumah Soekarno, Benteng Malborough, Pantai Panjang, Pecinan, dan Bengkulu Indah Mall, sebelum menuju Bandara Fatmawati Soekarno yang penuh lalat. Dari Benteng Malborough ada view yang indah–pantai panjang, pantai itu berpasir putih halus mirip abu. Di pinggir pantai itu ada jalan aspal panjang (dari Benteng sampai Ratu Samba) dan rencana pengembangan fasilitas pantai sepertinya cukup bagus, ada taman dan beberapa cottage. Kota Bengkulu sendiri menurut saya cukup sepi untuk sebuah ibukota provinsi, meskipun saya tidak akan menolak andainya ditawarkan pindah ke sana. Fasilitas umum cukup bagus meski belum seperti Malang, kota kelahiran saya. Plang bertuliskan “Jalur Evakuasi Tsunami” terpajang di beberapa persimpangan, dan menurut saya kota ini amat minim petunjuk jalan yang membuat saya sering kebingungan mau belok ke mana. Banyak bundaran dan rambu-rambu yang agak aneh, misalnya forboden dengan tambahan tulisan “kecuali mobil dinas”.

Oh, ya. Kebetulan Bunga Raflesia sedang mekar waktu kami berangkat. Bunga liar itu kadang muncul di perjalanan antara Kepahiang-Bengkulu Tengah. Tidak sebesar yang di Bogor, tapi lumayan buat dilihat. Sayang bunga itu cepat layu, jadi waktu kami ke sana lagi sudah tidak ada.

Buat saya sih, ini minggu yang menyenangkan meski melelahkan. Menginap di hotel, dapat mobil bagus (meski jadi sopir aja), dan pemandangan pantai yang indah. Boleh dikata ini bekerja sambil liburan.

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

Ini atau itu? Maksudnya? Ini atau Itu? Maksudnya? (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: