Terimakasih…

05 September 2008 at 8:00 pm 1 komentar

Sudah sekian tahun aku berharap bisa sedikit beristirahat, bisa cuti dan menikmati pekerjaan yang sedikit lebih ringan. Semakin hari rasanya makin berat ditambah berbagai keluhan dari hati ini yang selalu dongkol pada kemunafikan orang-orang sekitar. Hampir setiap hari, nyaris tanpa libur tenang sepanjang tahun. Pasti ada kejadian yang membuat aku harus selalu siap dan tetap waspada.

Dulunya aku hanya seorang tukang tulis biasa, mengurus beberapa buku agenda dan jurnal yang sederhana. Itu pun berdua dengan seorang teman. Entah kenapa lama-lama banyak tugas yang melekat dan mengikat, seperti murid yang naik level maka ujian dan soal pun semakin rumit. Dalam empat tahun beban yang aku tanggung adalah pekerjaan lebih dari enam macam untuk minimal tiga orang. Semua tentang administrasi seluruh barang milik kantor, berkas pegawai termasuk urusan mereka secara umum, bagian anggaran kedua termasuk kontrak-kontrak kecil, operator data dan teknis jaringan seluruh kantor termasuk kelistrikan, operator fingerprint dan ini sering kena protes pegawai tukang bolos, sekretaris kepala sekaligus operator telepon juga tukang surat, tukang koreksi laporan anak praktikum termasuk kasih nilai dan kritik dimana-mana, kadang-kadang jadi sopir dadakan, kadang-kadang jadi tukang foto, beberapa tugas di sejumlah tim kecil yang hanya sebagai bayangan tetapi rasanya lebih tepat disebut mesin tidak terlihat.

Pagi-pagi berangkat jam 07.30 naik sepeda pancal dari rumah di timur 8 kilometer ke kantor di barat dekat perbatasan. Sepanjang hari ga tau ngapain aja tau-tau udah sepi lagi, malem pulang jam 22.00 ke atas kadang nyambung sampe besoknya… sendirian.

Baru baru ini sih aku dapat junior yang lumayan membantu, tapi dalam mutasi besar-besaran kali ini dia pindah ke Lahat… dan aku dengan lemas memandangi rencana kerja. Akankah aku bisa bertahan lebih lama lagi?

Ada beberapa orang bilang pegawai negeri adalah parasit, mungkin. Tapi aku bertanya apakah semua seperti itu? Aku sendiri pegawai negeri sipil. Tidak ada uang lembur untuk semua pekerjaanku itu, kalaupun ada itu tidak seberapa. Honor tambahan tidak sebanding dengan pengorbanan yang ada seperti membeli beberapa sarana pendukung dari kantong pribadi. Banyak waktu dan tenaga yang terbuang, sementara penghargaan itu sangat jarang diberikan masyarakat lebih cepat menunjukkan wajah masam juga kata-kata yang tajam. Belum lagi kalau kami berjalan di pertokoan dengan nametag, orang-orang seperti ketakutan dan buru-buru menjauh.

Ah, tapi lupakan saja itu. Beberapa minggu ini ketika pulang lewat pertokoan, di sepanjang emper toko aku lihat beberapa orang tidur beralas koran dan karton. Ada seorang ibu muda dengan anak kecil yang masih menyusui kedinginan di depan sebuah toko perhiasan. Ada seorang kakek tua tidur berselimut sarung tanpa seorang teman pun di depan sebuah dealer motor. Beberapa lagi yang lain berserakan di sepanjang emperan itu. Tidak punya rumah dan keluarga, terbuang sia-sia. Langsung aku sadar betapa aku masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Sangat.

Terimakasih sudah membuatku bersyukur dan kembali bersemangat. Mudah-mudahan krisis ini cepat berlalu sehingga semua orang di negeri ini mendapat tempat yang layak sebagai manusia. Berbagi dan saling melayani sesama dengan cara yang benar.

Entry filed under: Melamun. Tags: .

Aturan, Pelanggaran, dan Orang di Sekitarku Pulang ke Peradaban

1 Komentar Add your own

  • 1. yetty  |  08 September 2008 pukul 4:21 am

    kamu juga ganti kulit..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: