Aturan, Pelanggaran, dan Orang di Sekitarku

31 Agustus 2008 at 2:20 pm Tinggalkan komentar

Banyak hal yang bisa kita syukuri, banyak kenikmatan yang sudah kita rasakan, tetapi banyak sekali keluhan yang muncul dari lisan mereka yang merasa dunia ini tidak adil. Buatku bisa melihat dunia sebagai seorang manusia normal  adalah kenikmatan yang wajib disyukuri.

Banyak orang mengisi hari-harinya dengan sia-sia, tidak banyak berguna bagi masa depannya, bermalas-malasan dan menghabiskan umurnya untuk sekedar merasakan sedikit dari usianya yang panjang. Ah, tidak, itu lebih baik daripada mereka yang menghabiskan umurnya untuk mendatangkan kesengsaraan bagi banyak orang.

Banyak orang yang aku temui hanya hidup demi dirinya sendiri, boros, egois, dan posesif. Kenyataan yang ada di sekitarku membuatku mengira masyarakat kita makin sakit. Tidak waspada pada akibat perbuatan mereka, tidak mau bertanggungjawab pada kesalahan, dan tidak memperhatikan keselamatan orang lain. Meludah sembarangan adalah hal yang biasa, jangankan itu, membuang sampah di tanah pekarangan orang lain pun sudah dianggap biasa. Membenarkan hal yang biasa pada akhirnya menjebak masyarakat pada kebiasaan parasit dan saling mengganggu. Apakah masyarakat semacam ini bisa membangun sebuah peradaban?

Muncul slogan semacam “aturan dibuat untuk dilanggar” meskipun kedengaran seperti bercanda tetapi kesan yang muncul sangat serius. Banyak kasus pelanggaran aturan terjadi karena anggapan umum bahwa aturan itu melanggar kebebasan, masyarakat harus merdeka, seolah-olah aturan itu telah menjajah mereka. Dongeng dan cerita perjuangan para satria pujaan semisal Robinhood yang ditafsirkan secara bodoh telah membuat mereka bingung dan bertindak jauh lebih bodoh lagi. Contohnya di jalan raya, melawan arus jadi istilah yang terdengar keren, parkir di sembarang tempat, berkendara tanpa lisensi, berbelok sembarangan semuanya dengan alasan yang tidak bijaksana. Mereka bilang, “selama masih aman kenapa tidak, toh ga apa-apa, kan ga ada yang dirugikan?”

Sejatinya aturan dibuat untuk mendukung perkembangan masyarakat, semakin baik aturan maka masyarakat semakin maju dan beradab. Seperti birokrasi, semakin efektif dan efisien maka semakin banyak sumberdaya yang bisa kita hemat. Tanpa aturan maka akan terjadi penindasan, ini terbalik dengan anggapan umum.

Hanya sedikit orang yang benar-benar peduli pada jaman kegelapan ini. Semua berteriak tentang pendapat mereka sendiri sampai mereka tuli tidak bisa mendengar dari yang lainnya. Tidak banyak orang yang benar-benar masih waras, hanya sedikit yang mau membela sesuatu yang dianggapnya benar, selebihnya memilih jadi oportunis atau mengasingkan diri jauh-jauh.

Tidak banyak harapan tentang perubahan, tapi optimisme harus tetap ada.

Entry filed under: Melamun. Tags: .

Liburan Sejenak Terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: