Chaos

25 Juli 2008 at 8:22 pm 2 komentar

Hhhh…. lagi-lagi cerita tentang neraka manajemen. Benar-benar tidak nyaman buat pegawai sepertiku kalau berada di bawah pemimpin yang sangat tidak cakap, peragu, dan licik. Kenapa aku begitu membencinya mungkin semua orang bisa maklum apabila tahu siapa sebenarnya dia.

Dalam banyak kejadian selalu saja dia membuat kami kecewa. Mana ada pemimpin yang mengumpankan anak buah hanya untuk hal yang tidak berhubungan dengan tugas, urusan pribadi yang remeh. Dia peduli pada hal-hal kecil tentang dirinya sendiri tapi tidak hal-hal besar bagi tim kerjanya. Dia tidak peduli pada perasaan orang banyak, hanya pada perasaannya sendiri.

Keadaan sudah semakin kacau dan suasana kerja semakin rusak. Semua pegawai yang jenuh berusaha keluar mutasi sejauh-jauhnya dari wilayah ini. Kebijakan yang tidak populer harus diimbangi dengan manfaat jangka panjang, tapi yang sering dia keluarkan adalah hal yang tidak bisa dia jawab dengan jelas. Pendirian yang tidak jelas hanya membuat orang yang paling setia pun akan berpikir berkali-kali untuk mengikuti perintah. Ambigu dan segala mood, tidak membantu dalam pembuatan langkah maju, yang muncul cuma keraguan dari para pelaksana.

Segala tatanan lama yang tidak dia mengerti segera ambruk dan semua pegawai mulai saling menikam. Satu-persatu sdm terbaik mutasi keluar dengan jalan pintas, dan sisanya adalah residu yang membuat suasana makin pahit. Masih ada sisa jalan yang panjang, sementara belum lama kami bersamanya sudah sedemikian rusak semua ini.

Harapan terakhir adalah reformasi birokrasi terbaru dengan segala metode birokrasi yang konon paling baru. Harapan pucuk pimpinan di Jakarta, begitu juga harapan ujung tombak di daerah ini adalah tidak sia-sia pengorbanan yang telah diberikan lapis terdepan barisan ini.

Dari balik bayang-bayang kegelapan, rahasia semua penghianatan dan angka-angka palsu ini kami berharap kebenaran akan terbukti entah kapan. Hanya harapan akan masa depan yang lebih baik yang membuat kami bertahan dalam kegetiran ini. Mudah-mudahan saat itu cepat datang.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Masyarakat dan Peradaban Rayuan dan Hati yang Ringan

2 Komentar Add your own

  • 1. Yee  |  30 Juli 2008 pukul 7:37 am

    Kalo ga betah, minta mutasi aja ke tempat lain, Yul

  • 2. Martabak  |  02 Agustus 2008 pukul 1:39 pm

    Jangankan mutasi, mo cuti aja susah banget. Masih ada tujuh proyek besar yang mesti digarap. Mereka pikir cuma aku yang bisa… padahal yang lebih pinter banyak, tapi kurang dipercaya. Jengkel… ruanganku satu-satunya di kantor ini yang suhunya 35˚C ++.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: