Masyarakat dan Peradaban

22 Juli 2008 at 10:11 pm Tinggalkan komentar

Belakangan ini makin banyak penyimpangan yang aku lihat di sekitarku. Semakin aku tahu banyak tentang sesuatu, semakin banyak aku melihat kecurangan manusia.

Betapa tidak menariknya sifat rata-rata manusia yang biasa aku temui di keseharian. Kebiasaan untuk semaunya sendiri adalah sesuatu yang merugikan lebih banyak orang. Hanya sedikit orang yang bisa kita percaya, lebih banyak yang cuma mau mengambil keuntungan sepihak.

Sudah semakin bosan dengan segala tipuan, tidak ada yang produktif. Masyarakat yang sakit tidak akan menghasilkan budaya yang sehat. Saling merampas dan saling merugikan membuat kita tenggelam dalam perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Apakah tidak ada hal yang bisa membuat kita saling berinteraksi dengan saling menguntungkan?

Sejarah manusia adalah sejarah penindasan, katanya. Apakah kita tidak bisa merubahnya?

Sepertinya kedamaian dan kesejahteraan merata adalah mimpi, hanya angan-angan. Peradaban bisa lahir di tengah masyarakat yang mau mencari kebenaran, tapi bagi masyarakat yang sakit hal itu hanyalah omong kosong. Hal itu membuat mereka makin anarkis lalu mati perlahan-lahan seperti orang yang menghisap candu.

Mungkin pada akhirnya mereka akan sadar, dan sepertinya siklus ini sedang berada pada puncak kebusukan yang panjang. Ada yang beranggapan bahwa itu adalah satu dari banyak musim yang panjang. Konon pada jaman dahulu juga ada keadaan semacam ini dimana kerusakan terjadi di mana-mana, masyarakat kehilangan tatanan dan tidak memiliki panutan. Lalu muncullah pembaharu yang melahirkan peradaban baru, ada jangka waktu yang sangat panjang untuk mencapai kejayaan, kemudian menurun untuk kembali pada kehancuran yang sudah digariskan. Seperti siang dan malam, tapi bagi manusia itu lebih lama dari hidupnya.

Sepanjang sejarah manusia tercatat banyak takdir kelompok masyarakat. Peperangan, pertempuran, duel, perkelahian, pembunuhan, dan penindasan adalah hal yang paling banyak dituliskan. Perebutan kepentingan adalah tema utama sejarah.

Dunia semakin menyempit, semua suku bangsa yang dulunya tidak saling mengenal sekarang saling berhadapan. Kepentingan dan kerakusan akan membuat mereka saling berebut sumber daya yang semakin menipis.

……. ah…. arus masyarakat semakin kacau…. kaum intelektual yang tidak bertindak di tengah kekacauan telah kehilangan sisi kemanusiaannya… katanya. Bertindak….. bagaimana? Entahlah…… Banyak dari para pejuang yang dulunya memperjuangkan idealismenya telah berhianat. Mungkin itu sifat manusia. Entahlah.

Entry filed under: Melamun. Tags: .

Malam yang Indah Chaos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: