krisis

08 Juni 2008 at 12:23 am 1 komentar

Ada pekerjaan besar yang membuat hidupku belakangan ini kacau. Tanggungjawab yang membuatku beberapa waktu belakangan ini tertekan. Tidak cuma satu macam pekerjaan, tapi beberapa… bahkan aku lupa berapa banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.

Ada inventaris yang masih kacau, dengan tim kecil berjumlah cuma dua orang saja. Aku kehabisan ide bagaimana memotivasi mereka, pegawai junior yang sudah kelelahan gara-gara menemaniku sampai tengah malam bahkan saat liburan. Toh sebenarnya itu bukan tugas kami… tapi apa boleh buat, anggap saja ini wujud loyalitas.

Ada lagi pekerjaan jaringan, dengan tim kecil berjumlah dua orang. Sebuah local area network sedang kami bangun, hanya berdua saja. Junior yang satu ini lumayan kuat, tapi belakangan dia juga mulai jenuh. Kelelahan yang luar biasa dan segala protes akibat jadwal pemasangan yang lama membuat dia jadi down. Dia mulai sering mengeluh, kami sudah mengorbankan banyak waktu dan tenaga juga uang untuk memenuhi permintaan seluruh kantor, tapi tidak ada yang berterimakasih. Kerja keras selama tiga bulan dan sampai tengah malam bahkan dini hari, Sabtu juga Minggu di dalam kantor yang sepi dan luas.

Dua pekerjaan tadi cukup menguras tenaga juga konsentrasi. Bayangkan saja kami bertiga (aku dan dua junior di tim SAI dan tim Komdat) mesti kerja dari mulai sampai selesai tanpa backup. Belum tugas rutin yang tidak bisa kompromi. Jadwal ketat. Fasilitas untuk menyelesaikan semua itu harus kami cari dan kadang mesti kami sediakan sendiri. Strategi bekerja harus disesuaikan dengan bermacam larangan, misalnya kabel dan lubang harus tersembunyi, stiker label tidak boleh dominan, warna kabel luar harus bersih, tidak boleh ada debu.

Benar-benar rumit, dan kalau aku boleh mengeluh… hampir semua aku kerjakan sendirian. Gak tega liat junior kecapean, meski aku sering galak sama mereka tapi melihat mata mereka yang memerah dengan kelopak mata sayu juga langkah yang lesu aku jadi gak tega. Percuma meminta mereka membantu kalau sudah seperti itu. Seringnya aku bilang kerjaan sampai di sini dulu jadi dia bisa pulang, tapi begitu mereka pulang aku mulai kerja lagi.

Permasalahan lain adalah seputar karyawan atau pegawai honor. Mereka agak meresahkan karena sikap mereka yang makin arogan, sementara halangan untuk memberikan sanksi adalah ketidak tegaan. Buatku kalau mau merasa kasihan tidak perlu seperti ini. Nilai kemanusiaan bukan cuma satu-satunya acuan dalam membuat keputusan menyangkut hukuman.

Sementara itu administrasi harian yang jadi tanggungjawabku masih kacau. Fasilitas arsiparis yang minim membuatku mesti merombak sistem yang baku, pencatatan dan label konvensional yang kaku mulai aku hemat dengan sedikit modifikasi. Entah cara ini legal aku belum tahu pasti, yang jelas tujuanku sekarang adalah efektivitas dan efisiensi maksimal. Problem utama adalah cuma aku yang mengerti sistem kerjanya, dan belum ada yang siap mengganti kalau misalnya aku cuti atau diklat.

Jadi kalau pagi aku jadi sekretaris sekaligus operator telepon merangkap server data juga pemantau komunikasi data, belum lagi jadi bendahara hibah dengan kode BA 69, apalagi bidang kepegawaian yang sudah jelas kacau balau. Sore sampai malam mengerjakan jaringan kalau bukan inventaris. Tambal sulam dan dan itu membingungkan tanpa rekan cakap yang bisa mengimbangi. Aku semakin yakin, daripada punya partner cerdas kadang lebih baik punya partner yang rajin bersemangat juga jujur dan rendah hati, punya motivasi juga inisiatif baik. Sial kalo dapet partner yang malas, goblox, licik, plus oportunistis.

Diluar itu semua kehidupan pribadiku juga agak berantakan. Beberapa kali aku bertengkar dengan teman, dan tidak banyak waktu untuk mereka. Kamar tidurku sudah tidak berbentuk lagi. Kalau sudah begitu kehilangan barang di antara tumpukan-tumpukan benda itu bisa membuatku uring-uringan. Mood sedang buruk.

Btw ada gosip kalau sebentar lagi tim audit mau datang ke kantor kami. Padahal laporan keuanganku masih kacau… entah kapan bisa melengkapi dua ratus catatan yang belum aku salin ke tiga jurnal keuangan.

Kemarin juga ada faks dari Palembang tentang undangan untuk bidang kepegawaian selama tiga hari, jangan-jangan aku yang ditunjuk. Kalau itu terjadi maka waktuku jadi semakin sempit.

Ujung-ujungnya aku selalu berkomentar kalau pegawai negeri itu terlalu banyak. Karena terlalu banyak jadinya mereka cenderung saling berbagi pekerjaan. Celakanya masing-masing mereka mengira kalau bagian mereka tidak perlu dikerjakan. Akhirnya banyak pekerjaan penting yang tidak selesai karena “tidak sempat” dikerjakan. Fatamorgana yang muncul adalah penambahan pegawai akan menyelesaikan problem. Sebaliknya, itu hanya menambah beban anggaran. Lebih baik membangun sebuah sistem yang memastikan tiap pegawai mengerjakan tugasnya sendiri sampai selesai tanpa bisa mengalihkannya ke pegawai lain. Sistem itulah yang diperlukan untuk membangun kebiasaan masyarakat dari tipe yang curang menjadi masyarakat yang sadar dan bertanggunjawab dalam waktu singkat. Entahlah….

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

bunga kopi Memilih Pasangan

1 Komentar Add your own

  • 1. ahsani taqwiem  |  16 Juni 2008 pukul 11:01 am

    ass…
    semoga kejadian-kejadian terakhir tidak menysutkan semangat anda mas,,,
    semoga anda buka orang yang terlalu gamapang letih seperti saya…
    tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: