Perempuan dan cerita lama

19 Mei 2008 at 10:15 pm 4 komentar

Belakangan ini kehidupan pribadiku penuh dengan yang namanya perempuan. Bukan berarti aku suka main perempuan, tapi mungkin takdir ini mempertemukan aku dengan mereka.

Sejak dulu sudah sering aku berteman dengan perempuan, mulai SD ada beberapa teman yang sering memberikan perhatian lebih. Tanpa bermaksud memamerkan ini, aku hanya merasa kalau itu memang sifat mereka. Entah apa perasaan mereka, selalu saja ada yang semacam itu di sekelilingku, mungkin semua laki-laki merasakan hal yang sama?

Semakin dewasa, sampai SMU dulu beberapa kata mesra yang aku dapatkan terkadang jadi kenangan yang manis. Sebagian mereka sekarang sudah berkeluarga, entah sebagian yang lain. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana harus bersikap, jadi aku cuma diam saja dan menunggu. Yah, mau bagaimana lagi?

Perubahan yang terasa adalah sejak aku kuliah, ketika pergaulan semakin luas dan kehidupan rumah jauh di seberang sana. Kendali terletak pada diri kita sendiri, dan segala godaan terbuka luas. Dari hubungan yang dulunya malu-malu dan terasa lucu untuk dikenang, hubungan di masa kuliah semakin serius dan jauh. Beberapa pertengkaran dan tangisan, ledakan emosi yang tinggi benar-benar nyata aku alami. Semua baru buatku, dan dalam banyak pilihan aku lebih banyak termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Dulu pertengkaran itu seperti hanya ada di sinetron dan film-film drama terasa cengeng dan menyebalkan, tapi ketika kita mengalaminya sendiri cukup sulit juga untuk mencari pilihan terbaik dari segala keterbatasan. Beberapa pertengkaran yang tidak aku mengerti kenapa bisa terjadi, tapi di depan sana aku melihat ada problem yang besar… masa depan.

Ya, masa depan itu menakutkan, apalagi masa depan yang suram gelap. Kepercayaan diri benar-benar ditantang dan aku lebih memilih diam, menunggu, dan ditinggalkan.

Baru saja aku bertengkar dengan seseorang yang belum lama ini aku kenal, tapi entah kenapa bisa begitu akrab. Aku tidak ingin satu orang temanku pun yang bisa kubuat jadi bersedih. Tapi entah kenapa sikapku bisa membuatnya menangis… aku sendiri tidak mengerti.

Kata-kata yang biasa aku terima, tapi selalu terasa pahit,”aku gak pernah berharap kamu suka sama aku, aku tau kamu gak bakalan suka sama aku, tapi kita masih bisa berteman kan?”

Aku tidak mengerti arti kata-kata semacam itu, dan kenapa bisa sampai terucapkan. Sudah sekian banyak yang berkata semacam itu, dan buatku semakin berat mendengarkannya. Seandainya hidup ini abadi, mungkin aku bisa bersama mereka selamanya …. Kata-kata itu lebih mirip kata “selamat tinggal, selamanya”.

Hubungan setelah itu jadi terasa dingin dan kaku.

Kata mereka harusnya aku merayunya. Harusnya aku tidak diam saja. Tapi dia bukan pilihanku, atau paling tidak tunggulah beberapa waktu lagi sampai aku siap. Jangan sekarang, terlalu cepat. Padahal kita baru saja saling mengenal, dan aku baru mulai menyukai suasana ini. Kenapa harus berakhir dengan keadaan seperti ini? Apa salahku? Kenapa kita tidak berteman seperti biasa saja dan sabarlah sampai aku terbiasa dengan duniamu.

Seperti bersin yang gagal, ada perasaan yang mengganjal. Mungkin cerita kami sudah selesai tanpa aku sempat sadar dan menikmatinya. Terlalu cepat, itu terlalu cepat.

Entah apa yang mereka sukai dari laki-laki seperti aku ini. Tidak ada yang istimewa. Bakat pun biasa saja. Orang bilang perhatian membuat wanita tergoda, dan aku lebih sering dingin pada mereka, sekali-sekali saja aku mendengar mereka. Pujian? Aku lebih sering mengejek dan menertawakan mereka. Hadiah? Aku cuma mencarikan titipan mereka kalau pergi ke toko, itupun minta tips. Wajah? Penampilanku seperti gembel, dekil dan lebih sering berkeringat.

Yah, mungkin saja semua lelaki sering merasakan kejadian ini, entahlah. Mungkin karena mereka –wanita– memang berbeda.

Apapun endingnya aku hanya berharap semoga mereka bahagia. Biarlah cerita-cerita konyol itu jadi kenangan masa lalu yang manis untuk dikenang, bukan cerita pahit nan menyakitkan. Janganlah bersedih selama kita masih punya harapan. Harapan ada sepanjang napas. Karenanya hiduplah dengan kuat.

Entry filed under: Tentang mereka. Tags: .

waktu merasa hebat

4 Komentar Add your own

  • 1. hanee  |  21 Mei 2008 pukul 9:09 am

    ^^– begitulah… ga usah coba dimengerti, pada waktunya semua akan terlihat jelas buatmu

  • 2. yetty  |  22 Mei 2008 pukul 9:31 pm

    yaaahhh,,laki-laki memang konyol, loh?he..he..

  • 3. yetty  |  22 Mei 2008 pukul 9:39 pm

    sampai SMU dulu beberapa kata mesra yang aku dapatkan terkadang jadi kenangan yang manis—>> sapa, yul? apa kata mereka?

  • 4. Martabak  |  29 Mei 2008 pukul 6:30 pm

    Yah….. kalau bicara tentang perasaan sih memang rumit. Mencoba mengerti kenapa kita suka sesuatu yang terkadang tidak masuk akal. Banyak teori tentang itu… tapi siapa peduli.

    Mereka, perempuan, benar-benar berbeda. Itu menurutku.

    Kebanyakan temanku yang jelek punya pasangan yang cantik, juga sebaliknya. Mitos tentang kekayaan, ketampanan, kekuasaan ternyata tidak selalu terbukti. Yang lebih sering muncul adalah kenyataan tentang “merasakan sesuatu”. Popularitas dan pesona termasuk kebiasaan juga bakat tertentu yang membuat seorang lelaki eksis di hati seorang wanita. Entahlah, itu teori seorang playboy, masih abstrak buatku.

    Memang benar tidak semua orang suka pada kita, begitu juga sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: