Monster?

02 April 2008 at 9:24 pm 4 komentar

Yah, ini waktunya inventarisasi fisik barang-barang kantor. Di kantor seluas 1800 m2 ini ada ribuan benda yang mesti aku dan seorang temanku periksa, sekitar lima ratus barang mesti diberi label baru, batas waktunya akhir minggu ini. Sementara itu ada beberapa tumpuk surat setinggi beberapa puluh centimeter yang perlu aku teliti dan harus selesai besok. Lagi-lagi ada laporan bulanan, juga laporan triwulan kepegawaian dari lima lusin orang yang mesti aku susun, konsep, ketik, cetak sendiri. Ada juga laporan keuangan bulanan serta beberapa pencairan dana yang mesti aku urus, belum masalah perdebatan Bagian Anggaran (BA) baru yang makin runcing termasuk perjalanan panjang 20 km ke Kantor Perbendaharaan. Ada juga beberapa jaringan LAN yang harus aku dan seorang teman pasang paling lambat akhir minggu ini… melelahkan karena mesti melubangi tembok, menarik kabel melewati dinding tinggi sampai kolong atap yang “hangat” dan kami hanya berdua. Untuk console tinggal memisahkan beberapa ratus daftar di query… paling lambat juga akhir minggu ini. Lagi-lagi tentang penyusunan jadwal honorer juga paling lambat minggu ini. Juga beberapa makalah peserta magang yang mesti aku teliti (corat-coret). Juga penataan sejumlah arsip rahasia. Juga penyusunan beberapa proposal kegiatan. Semuanya harus selesai minggu ini atau minggu depan. Selain beberapa konsep surat serta keputusan yang masih bisa menunggu sebentar.

Teman-temanku heran dengan cara kerjaku. Sementara aku heran dengan cara kerja mereka.

Sebagai bujangan aku gak keberatan kerja dari pagi sampai pagi, sekitar 16 jam sehari. Menikmati semuanya di ruang kerja tanpa AC dengan suhu hampir 45 derajat celcius, dengan sebuah PC paling canggih di kantor, dengan sebuah mesin faks, sebuah telepon sentral PABX, dan ruang 9 meter persegi ini cuma buatku sendiri, dengan empat kursi, dinding beton, dan dua pintu. Mereka sebut aku monster… untuk sementara itu terdengar keren. Sejauh ini aku masih belum tahu sebenarnya kenapa aku mau begini. Paling sedikit aku bisa berharap dapat pengalaman berharga tentang bagaimana mengelola waktu dan tenaga juga bertindak cepat dan praktis. Konon semakin sering kita mengasah diri maka semakin banyak yang bisa kita temukan dari hidup ini.

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

Lubuklinggau, Suatu Kali Menjelang Pagi Gagal…

4 Komentar Add your own

  • 1. yetty  |  04 April 2008 pukul 11:37 pm

    Aku juga heran dengan cara kerjamu dan juga heran dengan cara kerjaku.

  • 2. diarypuan  |  05 April 2008 pukul 8:59 pm

    ada ‘sesuatu’ ttg masalah kerja. ada yang karena terpaksa -daripada gak ada-, ada yang hepi-hepi aja karena suka. kalo di blog gue sering misuh-misuh ama kerjaan gue bukan berarti i hate the job, tapi job deskripsi yang brantakan -jadi kudu pro aktif-, lingkungannya yang gak kondusif bagi gue yang juga notabene ibu rt dan aktivis perempuan. yang jelas doa gue kini adalah semoga ada pekerjaan yang ‘ramah perempuan’ dan ‘ramah aktivis’. hm… bikin usaha sendiri kali ye … ya sekarang sih gue dobel gitu ma bisnis cemilan ma jual buku, cuma saat ini hati gue kok ngomong, ‘ betapa indahnya jadi pengangguran’….

  • 3. Martabak  |  07 April 2008 pukul 11:27 pm

    Aku kagum sama koki asia timur (Jepang sama Cina) yang bisa masak macem-macem dalam waktu singkat dan bersamaan. Keterampilan, ketelitian, dan konsentrasi yang tinggi membuat waktu mereka begitu berharga.

    Menikmati pekerjaan dan terus belajar jadi lebih baik, tidak merasa jadi budak atau tawanan adalah kenikmatan.

  • 4. yetty  |  08 April 2008 pukul 12:51 am

    Kamu juga harus kagum ma aku kalo gitu. Di games macam cake mania, dinner dash, pizza frenzy dll kerjaku cepat dan double2 :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: