Jodoh

25 Maret 2008 at 9:36 pm 3 komentar

Belakangan ini ada banyak peristiwa yang sangat berkesan buatku. Beberapa teman baik dan kenalan, teman-teman sebayaku menikah. Ada yang romantis, ada yang biasa-biasa saja, ada yang membuatku sedih. Semua terjadi begitu cepat, dan seperti biasa aku hanya bisa menyaksikan tanpa banyak berperan.

Ketika orang yang kita cintai menikah dan hidup bahagia tentu bila cinta kita padanya itu tulus maka kita juga akan bahagia. Akan tetapi bila kehidupannya berubah sedih dan susah tentunya ada rasa sesal dan kecewa, bahkan benci. Seperti yang terjadi pada perasaanku belakangan ini.

Sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa dia menikah dengan lelaki yang tidak dia mengerti sifatnya. Dia mengaku begitu, dan dia selalu bilang padaku kalau perasaannya lebih dekat padaku daripada suaminya, orang yang pernah jadi pacarnya selama tiga tahun lebih. Wanita ini hampir membuatku gila, dia terus menghubungiku, dan hatiku serasa makin hancur setiap dia bilang, “andai waktu bisa kembali.”

Aku hanya bisa bilang, “semua itu pilihanmu sendiri, sekarang aku gak bisa menyayangimu lagi seperti dulu, semua selesai.”

Dia selalu bilang, “Tapi kakak orang yang paling dekat di hati aku, kakak pahlawan aku, aku gak mau kakak pergi.”

Lagi-lagi aku selalu bilang, “Kalau aku punya istri nanti aku pasti gak rela kalau hatinya lebih dekat ke laki-laki lain. Aku menjauhimu karena kita terlalu dekat. Aku sudah bilang selamat tinggal, bukan karena aku benci sama kamu, ini semua demi kita.”

Entah kenapa dia menikah kalau memang suaminya tidak dia kenal, entah kenapa dia menyatakan perasaannya ketika dia hampir menikah, entah kenapa dia bilang lebih dekat denganku daripada siapa pun, entah kenapa dia ingin berhenti bekerja setelah menikah kalau suaminya tidak bisa menafkahinya, entah kenapa dia berpacaran dengan orang yang tidak dia suka kalau itu memang benar…. Apa dia punya kelainan? Ataukah dia terpaksa?

Entahlah…. Tiap kali mengingatnya napasku sesak, hatiku serasa makin sakit. Entah apa yang membuatnya begitu bodoh. Entah kenapa dia mengatakan semua seolah-olah dia sedang berteriak minta tolong. Lalu aku harus bagaimana? Wanita yang menyakiti dirinya sendiri hanya akan menyakiti orang-orang yang benar-benar mencintainya. Aku gak tau harus bagaimana lagi selain pergi menjauh. Ketika hampir mati maka selamatkan dulu nyawamu sendiri.

Jodoh? Apa itu? Dia selalu mengatakan itu. Aku sendiri tidak mengerti.

Menurutku jodoh itu seperti benih padi yang bertemu lumpur di sawah, maka dia bisa tumbuh subur. Ketika jodoh bertemu maka rasa cinta bisa tumbuh dan menguat dengan sendirinya sampai akhir usianya. Sebuah kombinasi yang cantik dan serasi yang saling melengkapi. Seperti musik yang indah dari berbagai akustik yang berbeda bunyi, siapa pun yang mendengar pasti merasakan. Seperti sepiring masakan yang lezat dari komposisi aneka bahan yang berpadu pas. Seperti lukisan dengan berbagai lengkung dan warna-warni serasi.

Manusia membawa komposisi sifatnya masing-masing, ketika berpadu dengan yang lainnya ada kalanya saling melengkapi, ada kalanya saling melukai. Hubungan yang tidak berjodoh artinya terlalu dipaksakan. Ketika ikatan tidak mempertemukan jodoh, meskipun keduanya sama-sama baik, tetap saja terasa tidak enak. Permainan biola yang indah digabungkan permainan piano yang indah bisa terdengar sumbang kalau iramanya tidak sesuai. Resep kelezatan sudah ditakdirkan, seorang koki pandai lah yang akan menemukannya. Manusia bisa menentukan ikatan, tapi jodoh memang sudah ditakdirkan. Orang bisa menikah dan kawin dengan siapa saja, tapi belahan jiwanya adalah takdir. Yah… itu pendapatku.

Entry filed under: Melamun, Tentang mereka. Tags: .

Sederet Kejadian Lubuklinggau, Suatu Kali Menjelang Pagi

3 Komentar Add your own

  • 1. Yee  |  25 Maret 2008 pukul 11:17 pm

    Jodoh..*menerawang*
    Doeoh, tu cewe lama2 bikin gw kesel deh. Dia yg ambil keputusan. Dia yang menyesal. Dia yang gangguin orang. Bete

  • 2. yetty  |  31 Maret 2008 pukul 8:36 pm

    lama2 bete juga ma tuh cewek. secara, kan ga ada yang maksa dia buat nikah, koq sekarang jadi gangguin orang terus

  • 3. Martabak  |  04 April 2008 pukul 9:35 pm

    Ceritanya sih dia tu gak punya ortu. Bapaknya meninggal waktu dia bayi, ibunya waktu dia enam tahun. Hidupnya susah, saudara-saudaranya juga kurang mampu dan belakangan lagi ribut soal tanah warisan.
    Dia deket sama orang tua co nya itu, dia ga tega nolak lamaran gara-gara tuh dua orang tua co-nya. Udah dua kali dilamar, jadi dia gak tega nolak lagi.
    Padahal aku pingin biayain dia kuliah loh, bantu dia mandiri. Tapi selesai sudah harapanku itu. Aku cuma berharap dia bahagia aja. Seandainya dia jadi menderita rasanya aku sedih….
    Dia bilang, “aku sendiri gak tau gimana nasibku selanjutnya.”
    Tapi itu kan pilihan dia sendiri… padahal dia masih muda banget. Mo gimana lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: