Lubuklinggau lagi

20 Februari 2008 at 12:02 am 2 komentar

Kira-kira sudah empat tahun aku di sini sejak 25-05-2005. Pertama kali datang ke kota kecil ini aku sendirian dengan modal uang tujuh ratus ribu rupiah. Naik bus dari Malang ke Jakarta, nyambung pesawat ke Palembang, terus naik Kereta dari stasiun Kertapati ke Lubuklinggau. Di stasiun aku naik ojek ke jalan Yos Sudarso, jalan utama kota ini.

Dari penginapan ke penginapan tanya-tanya harga, akhirnya dapet yang murah Rp20.000,- semalam. Waktu itu masih sepi, belum banyak motor seperti sekarang. Kagum juga waktu liat air selokan yang bening… -itu dulu, sekarang ini udah mampet dan bau-. Keliling kota jalan kaki, agak heran waktu liat ada panggung orgen tunggal di pinggir jalan yang penontonnya menutup setengah badan jalan. Sekarang sih udah biasa.

Selama empat tahun rasanya kota ini banyak berubah. Banyak properti yang berkembang, franchise dan beragam toko bermunculan. Sepanjang jalan utama sekarang penuh berjajar warung tenda sejenis pecel lele atau nasi goreng. Penjual makanan ada dimana-mana, juga kios pulsa elektronik, bensin eceran, dan toko kelontong (manisan), juga salon, bengkel, dan butik. Jalanan pun penuh motor (kreditan). Bisa dilihat kalau jam sekolah di halaman SMU-SMU atau kalau malam di parkiran tempat les sesak motor-motor baru mirip di toko motor bekas. Kalau sudah begini sepertinya tukang parkir jadi profesi yang menjanjikan penghasilan, tapi sebaiknya sedia receh sebelum membayar karena sekalipun ongkos parkir cuma Rp500,- anda bayar Rp1.000,- tidak dijamin bakal dapat kembalian.

Hati-hati kalau berkendara di sini, karena mereka cenderung untuk tidak sabaran. Maksudnya bukan ngebut, tapi ketika mau berbelok mereka sering lupa diri dan sekeliling, langsung potong jalur tanpa nengok ataupun melirik apalagi memberi aba-aba. Jalanan yang harusnya cuma dua arah jadi empat arah selang-seling, maka jangan heran kalau anda berpapasan dengan motor atau mobil di kanan dan di kiri sekaligus. Berbahaya kalau sedang keluar gang, karenanya jangan cuma memerhatikan arus utama, tapi waspadalah pada pelawan-pelawan arus yang berkecepatan tinggi.

Belakangan ada wacana tentang Sumatera Tengah. Wilayah utamanya sekitar Musi Rawas dan Rejang Lebong. Berkali-kali ke Curup, kotanya Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu. Penataan kota itu sekilas tampak rapi dan indah dibanding Lubuklinggau. Mungkin kalau Lubuklinggau itu diibaratkan Malang, Curup itu Batu-nya… gak terlalu mirip sih. Kotanya dingin dan punya kawasan agropolitan.

Lubuklinggau sendiri punya beberapa objek wisata yang lumayan menghibur, diantaranya air terjun Temam, bendungan Watrevaang, Siring Agung… apa lagi ya? Kota ini punya banyak penginapan dan hotel. Tarifnya mulai dari 20 ribuan untuk penginapan dengan kamar mandi luar, ada yang bagusan di kamar hotel standar yang ada televisinya mulai 75 ribuan, ada juga yang superior, deluxe, yah singkatnya macem-macem deh. Yang paling mewah konon Abadi hotel di Watervang, yang mana kalau ada pejabat datang pasti menginap di sana.

Entry filed under: Persinggahan. Tags: .

Menghitung Nilai Sederet Kejadian

2 Komentar Add your own

  • 1. diarypuan  |  06 Maret 2008 pukul 8:08 pm

    sumatra, belum pernah kesana..padahal moyangku asli bangka belitung…. cuma salahnya nih moyangku gak jelas pohon keluarganya, bliau gak mau ada crita lagi dengan bangka – jadi aku gak tau apa masih ada sodara ato gak disana…kok bisa terputus gini ya silaturahminya😦

  • 2. Martabak  |  10 Maret 2008 pukul 5:45 pm

    Memang urusan keluarga tu susah ya. Menyangkut perasaan, juga jati diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: