Menghitung Nilai

18 Februari 2008 at 10:39 pm 6 komentar

Malam ini aku sedang menghitung nilai. Betapa kecewanya aku tahu mereka saling mencontek. Tugas yang aku berikan untuk mengisi liburan mereka tergolong mudah, dan aku memberi mereka waktu selama dua minggu. Bukan main malasnya mereka ini, bahkan ada yang nekat memotokopi lembar jawaban kawannya mentah-mentah. Tiga oknum tersebut mengumpulkan fotokopian asli, lalu di atasnya mereka tuliskan nama mereka besar-besar… mungkin dengan harapan agar aku tidak menelitinya satu per satu.

Aku kecewa dan sedikit marah… kenapa mereka bisa berbuat seperti ini. Kalau mencontek atau menjiplak masih mending, tapi ini fotokopi, benar-benar fotokopi. Rasanya jadi ingin aku robek saja lembar-lembar ini… tapi biarlah jadi bukti kalau-kalau nanti ada protes terbuka. Meskipun bukan tipe killer, tapi untuk hal semacam ini aku tidak bisa memberikan toleransi lagi.

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

Masa lalu…. Lubuklinggau lagi

6 Komentar Add your own

  • 1. Dra  |  28 Februari 2008 pukul 9:33 am

    apa bila posisimu guru, berilah tindakan yang wajar karna kau berhak memberi tindakan itu

  • 2. diarypuan  |  02 Maret 2008 pukul 8:26 pm

    jadi inget waktu meriksa laporan praktikum fisika dasar, kutulis gede-gede yang laporannya niru ma temannya. Misalnya nih yang ketauan laporannya sama ampe titik koma adalah si Ani ama Dudung (maaf pinjem nama, jangan tersinggung, ini cuma misalnya). “Ani, kok laporanmu sama kayak punya Dudung ? Nyontek ya ?! Ato Dudung nyontek laporanmu?” Gitu saya tulis dan orat-oret abis-abisan laporan mereka…soalnya skalian ngeluapin rasa mangkelku -dimana secara gitu loh- skripsiku abis diorat-oret juga ma bapak dosen.

  • 3. diarypuan  |  02 Maret 2008 pukul 8:28 pm

    o’ya lupa… pertanyaanmu udah kujawab diblogku. Yang ttg Arsiparis dan Pustakawan itu.

  • 4. martabak  |  04 Maret 2008 pukul 5:26 pm

    @ Dra : yah… kadang gak semudah itu sih. Banyak hal mesti dipertimbangkan. Kalo aku sih pinginnya kasih mereka big “O” tapi karena gak tega aku kasih aja 20. Paling gak mereka udah memperhatikan.

    @ diarypuan : … pelampiasan…. :p

  • 5. achoey  |  06 Maret 2008 pukul 10:27 am

    perlahn namun pasti berbuatlah untuk merubah karakter penghancur seperti itu. penghacur masa depan karena pelaja adalah harapan.

  • 6. Martabak  |  10 Maret 2008 pukul 5:38 pm

    … pendidikan masih mendapat tempat yang kurang layak. Kebanyakan orang sekolah sekedar demi gelar dan bukan ingin belajar. Bukan hal yang luar biasa kalau sarjana kita tidak berdaya menghadapi angka pengangguran. Lazim kita dapati orang yang basic ilmunya gak matching ama profesinya. Sekedar kesetaraan gelar. Nah, ketika pengajar berhadapan dengan kekuatan lain di luar kelas tentu nasib dan masa depan jadi pilihan daripada idelisme itu. Dalam hal ini idealisme sering berbenturan dengan banyak hal yang kenyataannya lebih seram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: