Menilai Watak

10 Februari 2008 at 3:01 pm Tinggalkan komentar

Biasanya kami saling bertanya tentang sifat seseorang, terutama orang baru yang ada di kantor kami. Misalnya para junior baru atau pejabat yang baru saja dimutasi ke kantor kami.

Gampang-gampang susah menilai karakter dan kepribadian orang. Dimana kesan pertama adalah hal yang penting, meskipun tidak selalu benar tapi kesan pertama itu meninggalkan bekas yang lama di benak seseorang tentang karakter orang lain. Ada banyak indikasi dan perangai yang dimunculkan dalam berbagai kebiasaan kecil, hal-hal yang sepele dan remeh, tapi itu seperti kode yang memberi kita informasi tentang watak seseorang.

Terlepas dari semua itu menilai karakter seseorang adalah sebuah keterampilan sosial yang penting. Misalnya untuk memilih teman bermain, memilih anggota kelompok, memilih partner bisnis, sampai memilih pendamping ataupun pemimpin. Ada yang bilang orang jadi hebat bukan hanya karena apa yang dia punya tapi karena orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang hebat punya teman-teman hebat yang mendukungnya, seperti bangunan besar punya pondasi dan kerangka yang kuat.

Kadang-kadang aku sekedar iseng saja bilang kalau si A itu orangnya blablabla, yah sekedarnya saja sih karena aku lihat dia sering begini dan begitu. Belakangan mereka bilang ternyata memang benar sifatnya begitu dan begini. Aku sendiri sering ragu-ragu menilai seseorang, apa sifatnya memang begitu … sebab kita ingin dia punya sifat begini. Keinginan dan kenyataan memang sering berbeda, halusinasi sering memengaruhi penilaian kita tentang seseorang yang berakibat pada pengorbanan yang tidak perlu.

S i X tu anaknya cakep banget, sayang sifatnya blablabla. Orang yang mendengar dan cuma menilai mungkin bisa lebih objektif memberikan angka. Akantetapi orang yang terlanjur menaruh hati pada X tentu merasa bahwa dia punya sifat yang seharusnya ini dan itu. Seolah X adalah satu-satunya orang yang mereka harapkan dan meskipun segala borok ada padanya tapi sebuah kesan terlanjur membuatnya dianggap berbanding terbalik dari sifat aslinya. Hal semacam ini sering dimanfaatkan orang, misalnya saja dengan mencantumkan gelar dan titel.

Dalam banyak hal ada celah dimana manusia tidak bisa berbohong dan harus jujur. Tidak selalu dengan lisan tetapi mata ataupun anggota badan lainnya kadang lebih jujur dan bisa lebih dipercaya. Mengenali seseorang hanya dari pengakuan mulutnya adalah hal yang ceroboh. Ketika bicara pilihan katanya begitu, ketika berjalan dia begini, ketika berbicara matanya begitu, ketika duduk dia sering blablabla, dan masih banyak lagi hal kecil dimana dia menunjukkan watak aslinya yang tersembunyi yang coba atau tanpa sadar ditutup-tutupinya dengan kebohongan kata-kata lisan.

Menurutku menilai watak seseorang memang sangat penting sebelum kita terlanjur terikat dan berhalusinasi….

Entry filed under: Melamun. Tags: .

Kepercayaan Liburan ke hotel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: