Kepercayaan

09 Februari 2008 at 1:57 pm 1 komentar

Seminggu ini aku jarang di meja kerja, lebih banyak keluyuran dan mondar-mandir di jalanan. Banyak urusan luar yang mesti diselesaikan cepat-cepat. Menyangkut keuangan dan denyut kehidupan sebuah kantor. Rasanya riskan sekali memang kalau cuma satu orang yang diandalkan, tapi itu hanya salah satu sisi, beberapa orang kepercayaan lain juga menanggung beban semacam itu. Ngeri juga rasanya kalau kita sendirian menanggung beban yang terlalu berat. Beberapa orang di tingkat yang lebih tinggi tampaknya sudah kehilangan kepercayaan dari pimpinan, jadi beberapa orang di level terbawah termasuk aku terpaksa digerakkan langsung dengan segala resiko.

Bingung juga kalau dipikir dari mana asalnya semua tugas yang kelewatan ini. Mungkin beberapa orang menganggap ini hebat, tapi bagi kami yang merasakannya tidak demikian. Kalau kegagalan dan kehancuran membayangi langkah kami, berhari-hari susah tidur dan gelisah, perut mual, dan setiap ketemu orang jelek selalu aja pingin marah. Enak kalau kita punya bawahan yang bisa disuruh jalan atau dikasih komando langsung tanggap, eh ini udah kita yang paling bawah masih aja disuruh aneh-aneh. Rata-rata berkaitan dengan keputusan, dan amat riskan. Sedikit kesalahan bisa berakibat keributan atau minimal perang dingin.

Rasa letih dan gelisah makin menumpuk. Sudah lama rasanya aku mengumpulkan berbagai macam dosa. Masih ingat dulu waktu sekolah bohong sedikit saja sudah takut, tapi sekarang berbagai manipulasi seperti hal yang wajar. Hati ini rasanya makin keras, dan belas kasihan ini makin tipis saja.

Dulu aku paling susah marah, tapi sekarang sedikit-sedikit mudah emosi dan sudah pandai menggertak. Kata-kata yang empat tahun lalu ragu-ragu sekarang sudah terdengar tajam. Tatapan ini yang dulu merendah kini selalu menatap lurus ke arah mata lawan bicara. Perubahan yang dahulu tidak pernah aku bayangkan. Konflik yang dulu paling aku hindari sekarang jadi makanan sehari-hari seperti nasi. Entah labih banyak teman atau musuh yang sekarang aku dapat….

Beberapa senior dan juga dosen yang aku kagumi memberiku banyak nasehat dan jejak mereka memberiku banyak inspirasi. Berpegang pada prinsip meskipun harus terbentur banyak hal, menjaga kepercayaan, dan berusaha untuk tetap jujur rasanya seperti berjalan dibawah terik matahari di tengah-tengah jalan berdebu. Berbagai godaan materi dan wanita, segala kenikmatan dunia yang tidak terlalu besar tapi cukup menggoyahkan keyakinan datang silih berganti. Hanya untuk menghianati sebuah kepercayaan kadang muncul tawaran yang amat besar, dengan imbalan yang sulit dibayangkan.

Sebuah kepercayaan… seperti dinding, ada yang tipis atau tebal, ada yang lembut atau keras. Memercayai seseorang terkadang amat susah, seperti juga menjaga kepercayaan orang lain. Semakin lama dan semakin aku mengenal banyak orang semakin aku merasa sulit untuk memercayai mereka, demikian pula orang yang bisa memercayai orang lain. Pada harga tertentu banyak orang lebih memilih menggadaikan kepercayaan daripada nilai diri mereka sendiri.

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

Seseorang Menilai Watak

1 Komentar Add your own

  • 1. yetty  |  09 Februari 2008 pukul 8:23 pm

    …tapi sekarang sedikit-sedikit mudah emosi dan sudah pandai menggertak. Kata-kata yang empat tahun lalu ragu-ragu sekarang sudah terdengar tajam. Tatapan ini yang dulu merendah kini selalu menatap lurus ke arah mata lawan bicara.
    -> kapan ya aku bisa seperti ini. Pengen.

    …setiap ketemu orang jelek selalu aja pingin marah.
    -> wakakakak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: