Ke Luar Kota

27 Januari 2008 at 8:00 pm 2 komentar

Beberapa hari ini aku dan seorang teman satu tim datang ke kantor wilayah, di Palembang. Sebuah pertemuan untuk menyusun bahan laporan keuangan yang bersumber pada data transaksi keuangan selama semester II tahun 2007….


Sejauh ini kami cukup stress, selain karena acaranya yang mendadak karena undangan hanya selang dua hari dari acara tapi juga karena data yang harus dikumpulkan juga sangat banyak dan hampir mustahil mengumpulkannya dalam waktu sesingkat itu. Maklum saja cara kerja beberapa orang terkadang terlalu sulit dipahami sampai-sampai selama setahun itu jurnal transaksi bisa kosong meskipun ada pembelian ratusan juta rupiah, dan kami berdua harus membuat semua laporan yang harusnya sudah disediakan oleh orang lain yang memegang job tersebut.


Siang-malam kami bekerja dari pagi sampai pagi lagi, sesekali istirahat 15 menit untuk menenangkan pikiran. Hasilnya masih jauh dari harapan, jadi kami tunda keberangkatan sehari dengan konsekuensi diomeli bos. Yah, daripada harus pergi tanpa bahan, toh sebenarnya kalau mau masa bodoh bisa saja kami bilang itu tanggungjawab pimpinan, sebab tugas kami sebenarnya cuma mengolah data dan bukan membuatnya.


Perjalanan dimulai malam hari dan paginya kami sudah sampai di Palembang, kebetulan ada yang menjemput dan langsung mencarikan hotel. Jam 9 pagi dengan semua bahan yang berhasil dikumpulkan kami menuju ruang rapat, memasang notebook, dan mulai mendengarkan pengarahan untuk kemudian mulai memroses bahan.

sendirian


Rasa cemas mulai terasa ketika bahan yang kami butuhkan ternyata ada yang tertinggal, dan apapun itu tidak boleh ada waktu yang terbuang. Pengolahan data terus kami lakukan sambil telepon kesana-kemari untuk meminta data, entah berapa pulsa yang sudah terbuang. Sore menjelang dan sirine sudah berbunyi ketika kami sampai pada data terakhir untuk perekaman pertama, waktunya pas, dan itu membuat kami makin cemas.


Hari kedua kami mulai memroses laporan kedua dan semua berjalan lancar sampai neraca kami buat untuk dibandingkan dengan laporan pertama. Jreng…. hasilnya berbeda! Anggaran dan belanja harusnya seimbang tapi ada selisih seratus jutaan… gawat!


Setelah diperiksa satu per satu kami cocokkan datanya ternyata sudah benar, tapi tidak mungkin ada selisih… kecuali… manipulasi. Pertanyaan itu terus kami berdua ulangi… sampai sore kami periksa semua datanya, per item, digit demi digit dari awal sampai akhir tahun. Sampai di hotel pun pertanyaan itu terus terbayang… baru ingat kalau saja data pembelian itu belum termasuk PPN 10% yang mana dari pembelian 1,6 milyar ada selisih sekitas 200 jutaan. Ternyata benar, setelah ditelepon si pemberi data dengan polosnya mengatakan bahwa itu data yang belum diproses lagi. Sial, bikin panik aja!!


Hari ketiga kami mulai merekam data dari awal, gara-gara data semula belum termasuk PPN yang akhirnya data itu jadi tidak berguna lagi… dua hari sia-sia…. Sementara tim lainnya sudah mulai berkemas-kemas pulang kami harus mulai dari awal lagi dengan pengawasan dan perlakuan berbeda… meskipun mereka ngerti tapi tentu saja perasaan cemas mereka membuat mereka jadi lebih keras terhadap kami. Sorenya kami boleh pulang dengan peringatan tentang laporan persediaan yang masih belum ada harus segera dibuat.


Hari keempat dari pagi sampai sore kami mesti memeriksa lagi datanya dan selisih laporan itu hanya beberapa rupiah. Yah… apa boleh buat, data dan input sudah sesuai, berarti ada kesalahan pencatatan transaksi. Akuntan kantor wilayah hanya bisa pasrah karena ini hari Jumat, dan Senin dia harus terbang ke Jakarta untuk menyusun laporan keuangan tingkat nasional. Kalau buatku, sorenya terasa melegakan… meskipun dengan catatan kalau terjadi kesalahan proses input, maka kami dalam masalah.


Malam nanti kami tidak dapat tiket, jadi terpaksa delay sampai besok siang. Yah, itung-itung istirahat menikmati malam yang tenang di kamar hotel. Saat-saat seperti ini jadi amat berharga kalau ingat dulu sebelum bekerja kita punya banyak waktu luang yang sekarang jadi terasa amat langka.

Entry filed under: Kerjaan. Tags: .

Titik Jenuh Nabrak Anjing

2 Komentar Add your own

  • 1. mina  |  31 Januari 2008 pukul 11:03 pm

    memang menyebalkan. aku sering berurusan dengan staf-staf administrasi (dan kelihatannya akan terus begitu) yang rupanya tidak begitu memahami pekerjaannya. surat ditumpuk tanpa diarsip. ditanya sesuatu yang merupakan pekerjaannya malah bengong. ujung-ujungnya kita mesti berkutat sendiri mencari data, mentah. tidak mengerti deh, apakah kriteria penerimaan karyawan mestinya diperketat?

  • 2. 28764ku  |  02 Februari 2008 pukul 4:42 pm

    Kalau diperketat jangan-jangan malah gak ada yang diterima… hehe. Yang jelas kontrol dan pengawasan harus diperkuat, atasan mesti berani menekankan aturan. Aku percaya kalau semua taat pada prosedur maka kesalahan yang tidak perlu dapat diminimalkan. Masyarakat kita cenderung meremehkan aturan yang dianggap membelenggu, bukannya dianggap membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau

%d blogger menyukai ini: