Saat Ini dan Masa Lalu

Tiba-tiba teringat masa-masa tahun 90-an, saat itu aku masih sekolah dasar dan belum mengerti banyak tentang uang. Saat itu semuanya terasa mudah, ketika ayah dan ibu menjalani rumah tangga mereka dengan sederhana. Tiap sore aku bersama teman-teman bermain di rawa dan bukit di sekitar pemukiman kami, semuanya nyaris tanpa biaya sebab kami memakai bahan-bahan permainan seadanya. Hari-hari libur terkadang menikmati api unggun dan bakar ikan hasil tangkapan.

Membuat rakit, merangkai pancing dan joran, merakit layangan, menyusun meriam sundut, dan belajar memanah adalah sebagian kenangan yang tidak terlupakan bersama teman-teman dari bukit, rawa, sampai ke pantai. Kegiatan yang sekarang dianggap kuno, kotor, dan berbahaya untuk anak sekarang.

Saat itu berjalan kaki belasan kilometer pulang pergi sekolah adalah rutinitas sederhana, masuk hutan naik bukit dan turun ke rawa bukan sesuatu yang ditangisi, tapi justru membuat kita bangga dan semakin kuat secara fisik maupun mental. Setiap lembar buku tulis harus dihemat, buku pelajaran dan seragam dari kakak-kakak kita dirawat dengan sangat hati-hati.

Sekarang dua puluh tahun dari saat itu, ketika setiap orang tua memroteksi anaknya dalam rumah dengan berbagai alasan, anak-anak bermain dengan alat permainan yang canggih, bersih, di dalam ruangan yang sempit. Tempat bermain mereka semakin berkurang, hampir setiap petak tanah yang dulunya nyaris tidak berharga sekarang diperhitungkan dengan uang yang tidak sedikit. Kalau dulu kita bisa berlari bebas di halaman rumah, sekarang untuk sepetak tanah pun terkadang orang harus mencicilnya selama bertahun-tahun.

Sekolah kini identik dengan pengeluaran dan biaya mahal, walaupun disebut gratis tapi biaya sampingannya tidak juga sedikit. Kalau dulu SD inpres banyak berdiri, sekarang justru sekolah swasta yang menjamur, menggambarkan betapa sektor pendidikan sudah menjadi lahan bisnis yang menggiurkan.

Anak-anak semakin enggan melangkahkan kakinya sendiri. Halaman sekolah yang dulunya luas sekarang dipenuhi kendaraan bermotor, belum termasuk kemacetan di sekitar sekolah ketika jam masuk dan pulang sekolah berlangsung. Demikian juga tempat ibadah yang semakin sesak dengan kendaraan dibandingkan jamaahnya. Jasa lahan parkir pun bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele karena perputaran uangnya yang tidak lagi sedikit.

Sebenarnya ke arah mana peradaban ini kita bangun? Adakah kondisi sosial masyarakat ini membaik ataukah mengarah pada pembusukan?

Buatku peradaban yang baik adalah yang membuat mayoritas masyarakatnya bahagia dengan kehidupannya sendiri betapapun sederhananya itu. Bukan peradaban yang membuat banyak jiwa menderita dan semakin sakit hingga harus mencari pelarian, dimana setiap hari kita cemas akan masa depan, dipusingkan oleh keinginan yang tidak ada habisnya betapapun makmurnya kita dimata orang lain.

Apalah arti modernisasi dan angka pertumbuhan ekonomi semata apabila kita justru semakin menderita, tidak punya teman sejati, putus asa, selalu mencari pelarian, dan makin dekat dengan dosa.

15 Agustus 2012 at 10:11 pm Tinggalkan komentar

Baru Ingat

Ah, beberapa bulan lalu ada seorang teman yang kehilangan sesuatu. Kebetulan beberapa hari kamudian aku ditawari barang yang sepertinya dia inginkan. Sebenarnya sudah lama sekali, entah dia masih menginginkannya atau tidak.

Baru saja aku merapikan kamar dan menemukan kotak ini… baru ingat juga. Aku tidak tau dia akan senang atau justru sebaliknya mengira aku berniat macam-macam. Rasanya aku sendiri tidak terlalu yakin waktu membelinya, seperti tidak sengaja terbeli. Tak apalah, daripada tidak terpakai dan terbuang rasanya lebih baik aku berikan saja. Siapa tahu dia senang.

01 Februari 2009 at 9:14 am 2 komentar

Satu Bulan Itu Sebentar

Baru saja awal tahun ini pulang dari Bandar Lampung seminggu setelah itu ada panggilan ke Palembang. Bagiku amat melelahkan karena tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di sana.

Waktu aku belum bekerja dulu mengira betapa enaknya jadi orang sibuk dan punya jadwal yang padat. Bisa menginap di hotel mewah, punya banyak relasi, kemana-mana bawa tiga cellphone, dan tas berisi notebook dan dokumen-dokumen berharga….

Sejauh ini kenyataannya aku merasakan betapa pahitnya jadi orang seperti itu. Harus menahan diri dan hanya punya waktu sangat sedikit untuk diri sendiri. Lebih gawat kalau kita jadi orang di level bawah yang harus mengerjakan semuanya sendirian. Lebih lagi kalau dapat kawan yang tidak kooperatif.

Sejak pertama kali bekerja dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah dan beban kerja yang sedang-sedang saja, sekarang ini sudah beberapa kali lipat yang cukup untuk sewa rumah setahun, tapi aku jadi kehilangan banyak sekali waktu luang. Hampir lima tahun ini aku belum pernah bisa cuti, libur terbatas, dan setiap saat selalu cemas dengan gangguan telepon. Aku punya tiga nomor, tapi ketiganya lebih sering aku simpan di tas yang membuatnya penuh misscall dan sms.

Kemarin sempat beberapa kali menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Padahal dulu waktu SD aku sering menyewa kolam hotel untuk sekedar berenang sama teman-teman, tapi sekarang tidak ada waktu untuk mendekatin. Aku lebih sering di luar hotel, di ruang rapat, atau mengurung diri di kamar bersama notebook. Notebook berisi aplikasi-aplikasi yang membuatmu hampir frustasi dan nyaris gila sendiri.

Seminggu di Palembang yang aku kunjungi hanya Duta, J-CO, ruang rapat kanwil, aula, dan sejumlah teman lama. Acara selama seminggu tiap hari mulai pagi sampai larut malam dengan sejumlah jeda limabelas menit. Beberapa petugas dari inspektorat itu dulu temanku kuliahku di Jakarta, tapi beda nasib, sepertinya aku lebih beruntung dapat tempat tenang seperti Lubuklinggau meski harus bekerja dengan beberapa “bekicot” yang sangat lambat. Paling tidak aku bisa menikmati beberapa makanan enak juga donat dan coklat hangat. Seandainya saja para “bekicot” itu tidak buru-buru mengajak pulang tentu aku berencana menginap beberapa hari lagi di Palembang untuk liburan singkat.

Toh di jalan para “bekicot” itu bilang pelan-pelan saja padahal mereka dari hari pertama maunya cepat pulang dengan berbagai keluhan. Benar-benar birokrat ga berguna tu “bekicot”, nyusahin orang lain aja. Aku lebih setuju mereka dipotong satu-satu atau minimal dicopot dini aja biar beban negara ini berkurang.

01 Februari 2009 at 9:05 am 2 komentar

Liburan di Lampung

Lubuklinggau-Lampung

Tahun baru kemarin dapat undangan resepsi pernikahan temen di Lampung, sekalian menikmati pergantian tahun kami berangkat ke Lampung naik mobil. Sebenarnya saya sudah sering mondar-mandir lewat lampung tapi untuk keliling kotanya memang belum pernah. Katanya ayah saya sih punya kebun cengkeh di Lampung, tapi beliau sendiri tidak pernah bercerita tentang itu. Kami sekeluarga bahkan tidak pernah diajak ke kota itu, selain jauh, beliau juga sibuk dan liburan pun lebih baik beristirahat saja di sekitar Malang. Perjalanan kami dari Lubuklinggau dimulai pagi hari sekitar jam tujuh beriringan tiga mobil Kuda, APV, dan Terios. Kuda di depan sebagai pemandu, sopirnya orang Lampung. APV di belakang penuh berisi manusia termasuk dua sopir yang sedang mengantuk. Sementara itu aku dan seorang teman naik Terios, dia tidak bisa menyetir jadi aku pegang kemudi sampai ke Lampung… mobil itu kosong… tidak ada yang berani jadi penumpangku….. Jalan ke arah Lampung melalui jalur tengah, seingat saya lewat Lahat, lalu Muara Enim, Baturaja, Martapura, Metro, terakhir Lampung. Jalan ini termasuk lancar, relatif sepi dan beraspal rata meskipun ada beberapa lubang menganga tapi masih termasuk bagus untuk Jalan Lintas Sumatera. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah hutan dan sungai, sangat berbeda dengan di Jawa yang didominasi rumah-rumah manusia. Lebar jalan kira-kira hanya empat mobil, banyak tikungan dan kontur jalan yang tergolong berbahaya. Tidak heran sepanjang perjalanan kami sering menjumpai kecelakaan “live” persis di sekitar kami. Paling tidak ada lima kecelakaan yang benar-benar kami lihat sendiri dalam perjalanan, syukur saja kami selamat. Ada motor yang saling beradu di depan kami, dua orang sekarat dan sepertinya langsung tewas sementara penumpangnya pingsan dengan beberapa ruas tulang yang sepertinya patah…. Ada lagi truk yang tiba-tiba menabrak pohon persis di depan pos polisi, ada lagi sepeda yang melawan arus lalu tiba-tiba ditabrak Panther sampai bemper depan mobil itu melayang, ada lagi bus yang terjungkir ke jurang…. singkatnya pemandangan mengerikan itu membuat sopir depan kami menjaga kecepatan pada angka 60 km/h…. membuat kami sampai di penginapan tepat tengah malam.

Di Kota

Bandar Lampung adalah kota yang ramai, tapi liburan itu sepertinya agak sepi. Kurang lebih seperti Palembang, seperti kota besar pada umumnya kota ini juga punya penyakit dalam tata kota yang berantakan dan kurang enak dinikmati. Hiburan kami adalah pantai pasir putih (pantai panjang seperti di Bengkulu), waterboom dan marina di sebuah komplek perumahan. Entah kenapa komplek ini sepi, padahal lokasinya bagus di pinggir laut dan punya dermaga kapal kecil… ada banana boat dan sejumlah kapal pribadi. Hiburan malam yang menggoda sudah menjerumuskan dua sopir kami dalam rasa kantuk yang hebat. Dalam perjalan itu hanya ada empat orang yang bisa menyetir termasuk aku, akibatnya kelompok kami terpecah dua jadi kelompok APV dan kelompok Terios. Kelompok APV yang belum pernah melihat kota dan hiburan malam nekat menguras tenaga pada acara-acaranya sendiri, sedangkan Terios memilih beristirahat dan menikmati hiburan bertema air dan laut yang ringan-ringan saja. Toh dalam keadaan ngantuk dan capek kita tidak bisa menikmati apa-apa.

Resepsi

Acara pernikahan teman kami itu berlangsung di masjid, resepsinya di aula masjid itu juga. Yah… mungkin itu ide yang bagus… praktis dan singkat. Kelompok Terios datang tepat waktu sejak akad nikah, sedangkan APV datang menjelang acara bubar, dengan mata mereka yang lelah.

Pulang

Setelah tiga hari di Bandar Lampung rasanya sebentar saja, seperti liburan yang sebelum-sebelumnya selalu saja ada yang terasa kurang. Setelah membeli oleh-oleh kopi dan pala dari pabrik Suseno, besoknya kami pulang. Kuda ke Jakarta, APV dan Terios pulang ke hutan. Kali ini Terios yang di depan, perjalanan lancar meski masih dihias sejumlah lakalantas di sekitar kami. Dengan kecepatan yang cukup kita bisa mencapai Lubuklinggau dalam waktu kurang dari sepuluh jam, kalau tidak ada yang berteriak-teriak ketakutan mungkin bisa kurang dari itu….. Tapi dari tahun ke tahun jalanan yang sempit itu makin ramai apalagi sepeda motor yang asal bisa pegang stang saja. Maghrib kami sudah sampai di Lubuklinggau.

25 Januari 2009 at 11:04 pm Tinggalkan komentar

Lubuklinggau-Palembang

Ada undangan menghadiri dua acara di kantor wilayah, pergi ke Palembang naik Panther jadi sopir seperti biasa. Ternyata memang tidak banyak orang yang mahir menyetir, tapi tidak mengapa ini lebih enak daripada harus naik sepeda motor.

Perjalanan dari Lubuklinggau ke Palembang normalnya ditempuh dalam waktu kira-kira lima jam perjalanan darat. Jalanan cukup sepi menyusuri pinggiran sungai Kelingi yang mengarah ke Musi. Jalanan beraspal datar, tidak banyak mobil yang lewat, dibandingkan di Jawa bisa dibilang sangat sepi. Sesekali kita bertemu dengan truk-truk pengangkut sawit, karet, atau pasir, bahkan kayu gelondongan.

Jalanan sampai dengan Sekayu adalah jalanan yang relatif rata, meski kalau anda rasakan pembangunan jalan ini belum serius. Masih banyak lubang “jebakan” di antara jalanan yang kelihatan mulus itu, ditambah gelombang-gelombang kecil di sepanjang jalan. Kalau anda meletakkan botol di dasbor mobil pasti tidak akan bertahan lama.

Paling berbahaya dari jalan ini selain lubang-lubang surprise adalah belokan tajam datar dan tanpa rambu. Belokan semestinya dibuat dengan derajat kemiringan tertentu dengan perhitungan fisika agar aman, tetapi kebanyakan belokan di sana dibuat datar bahkan ada beberapa yang kemiringannya keliru sehingga sangat berbahaya bagi yang melintas cepat. Kalau anda sopir baru atau belum mengenal daerah ini saya sarankan berhati-hatilah bila melihat tikungan. Dalam kecepatan 40 km/h saja mobil kami sudah berdecit keras.

Dibandingkan jalur ke Bengkulu yang jumlah tikungannya sangat banyak, meskipun sedikit tetapi tikungan di jalur ke Palembang ini relatif lebih berbahaya. Banyak bekas-bekas kecelakaan di sepanjang jalur ini dibandingkan yang ke Bengkulu.

Sampai dengan Sekayu jalan rata, selebihnya sampai ke Betung kita harus ekstra waspada. Oh, ya kalau ke Sekayu cobalah mampir ke kotanya. Arsitektur dan penataan kota yang sepi ini terlihat begitu modern dan cantik.

Jalanan Sekayu-Betung kurang bagus meski beraspal, waspada lubang mulai lubang kecil sampai yang seukuran mobil. Ini adalah setengah perjalanan yang paling melelahkan. Jangan kaget kalau anda tiba-tiba bertemu celeng seukuran anak sapi. Pastikan rem bekerja dengan baik. Anda mungkin bertemu dengan burung-burung unik, atau tiba-tiba ada monyet yang melintas jalanan.

Selain tikungan maut ada juga tanjakan maut, dimana jalanan itu menanjak landai dan turun lagi cukup halus. Kalau anda melamun mungkin mengira jalanan di depan itu sepi, padahal di puncaknya jalanan itu turun lagi menyembunyikan kendaraan yang mungkin ada di depan sana.

Lewat dari itu ada jalan pintas komplek perkantoran yang relatif lurus. Di jalan ini anda bisa merasakan kalau pada kecepatan tinggi mobil anda akan sering terbang karena jalanannya memang tidak benar-benar rata dan datar.

Sampai di Palembang bersyukur karena bisa sampai dengan selamat, kota ini terasa sumpek dengan kemacetan cukup tinggi dan tata kota yang agak membingungkan. Ga tau juga deh.

Beruntung malam itu Sandjaya masih ada kamar kosong, hujan deras dan angin kencang menyambut kami. Minggu ini sampai bulan Februari nanti adalah saat-saat yang melelahkan. Penjelasan langkah-langkah strategis dan berbagai petunjuk administrasi menambah daftar panjang pekerjaan rumah. Aku dengar ada perusahaan lain yang membayar bill kami di hotel, tapi aku tidak tahu pasti. Entahlah. Rasanya aku ingin berendam air panas sebentar….

08 Desember 2008 at 9:15 pm 1 komentar

Godaan Pandangan Pertama

Kemarin dapat tugas mengantar tamu ke bandara Fatmawati di Bengkulu. Hitung-hitung refreshing, berkeliling kota. Lumayan juga, namanya ibukota provinsi jadi fasilitas lumayan lebih lengkap daripada di Lubuklinggau. Ada Gramedia dan toko-toko besar meski sederhana.

Menuju pantai kami melintas di jalan utama kebetulan aku melihatnya di toko itu, sekilas saja, tapi setelah itu di sepanjang jalan aku selalu tergoda untuk memikirkannya. Aku hanya diam, perjalanan harus berlanjut, seperti rencana sebelumnya maka kami menuju pantai. Mencari ikan, melihat pemandangan dan mengunjungi benteng.

Menjelang tengah hari, mendekati jadwal keberangkatan sang tamu minta langsung diantar saja ke bandara daripada terlambat. Bandara Fatmawati seperti sebelum-sebelumnya penuh lalat berterbangan bebas di lantainya yang penuh mahluk hitam bersayap itu.

Melewati jalan yang tadi, sedikit memutar… dan kami tersesat tanpa petunjuk, meski jalannya cuma itu-itu saja ya nyasar juga akhirnya. Berputar-putar di jalanan yang sepi tidak sengaja lewat di depan toko yang tadi. Dia masih di sana, kali ini lampu merah jadi aku memandanginya lebih lama, benar-benar cantik. Ragu-ragu, tapi hasratku begitu menginginkannya.

“Aku mau mampir bentar, tunggu ya,” kami berbelok dan parkir tidak jauh di sana. Kami masuk ke toko itu, melihat-lihat sebentar. Melihatnya membuatku tersenyum-senyum sendiri.

“Berapa yang ini?” aku menunjuknya. Laki-laki pemilik toko itu buru-buru berdiri dan menghampiriku, mungkin dipikirnya aku serius.

“Ah, yang ini dua setengah, barang baru, memang lebih cantik,” katanya datar.

“Koq murah banget sih, tapi apa bisa kurang lagi?” kataku agak ragu.

“Wah, ini barang baru, Om, udah banyak yang cari dia, nanti nyesel loh.” Dia menggodaku.

Singkat cerita akhirnya kami membawanya dengan terios, mengikatnya di kursi belakang supaya tidak bergerak-gerak. Agak susah dengan tali terbatas.

Kebetulan saja belakangan sepeda pancal yang biasa aku bawa mencari rejeki itu sudah mulai renta. Beberapa onderdilnya sudah harus diganti, bodinya masih mulus tapi sudah tidak seimbang lagi. Akhirnya aku beli sepeda baru, United Exotic punya dua cakram dan full suspension dengan harga terjangkau. Sepeda yang cantik, meski tadinya aku sedang mengincar Wimcycle DX tapi yang ini boleh juga. Mungkin ini sudah jodoh, hehhehhehh…..

08 Desember 2008 at 1:01 pm Tinggalkan komentar

Hari ini mati lampu lagi…. (23 Oktober 2008)

Hari ini mati lampu lagi. Masih siang, jam kerja masih lama, tapi tanpa listrik aku tidak bisa banyak bekerja. Administrasi di kantor kami sekarang makin sedikit menggunakan kertas, tapi tanpa listrik langsung lumpuh.

Duduk di ruang depan di lantai dua kantor, di dekat tangga depan ada sebuah ruang rapat dengan jendela menghadap ke jalan. Hujan gerimis turun, untung saja, kalau tidak ruangan ini akan sangat panas tanpa kipas angin. Beberapa penjual durian dan rambutan masih menunggu pembeli di sepanjang jalan di depan sana. Tiga ribu rupiah untuk satu durian atau sekantung rambutan.

Durian hutan katanya paling enak dan punya cita rasa kuat, tapi aku tidak doyan buah yang satu ini. Harganya makin turun dan panen kali ini sepertinya melimpah. Musim buah-buahan sudah tiba. Beberapa temanku senang membelinya, satu karung tiap hari. Beberapa orang membawanya di motor, di tempat pijakan kaki belakang itu mereka mengikatkannya.

Merasa beruntung karena baru beli Axio Pico, netbook ini ringkas dan cukup lengkap jadi mudah dibawa jalan-jalan berburu hotspot dibandingkan Toshiba reguler yang bisa membuat punggungku keram. Kecuali pointernya yang agak susah diatur dan sering loncatt-loncat klak-klik sendiri, performa mini notebook ini cukup memuaskan. Cocok buatku kecuali untuk urusan game dan multimedia, speakernya mono dan tidak ada optik-drive, main EE2 juga patah-patah.

Awan mendung menutup langit, di kejauhan sana Bukit Sulap berkabut. Kalau kabutnya tebal dia bisa menghilang, seperti juga perbukitan lain di arah Padang Ulak Tanding. Beberapa ekor anjing asyik bercanda berkejaran dibawah guyuran gerimis. Sejauh mata memandang hamparan pohon kopi, bukit yang pudar, juga awan mendung yang pekat. Kilatan-kilatan petir berkelip-kelip, suaranya membahana dan bergema. Benar-benar tenang.

Kantor makin sepi, beberapa pegawai memanfaatkan waktu seperti ini untuk tidur di meja kerja atau dibawahnya. Sebagian lagi berkumpul untuk berdiskusi atau sekedar bergosip. Beberapa siswi praktikum tersenyum padaku, mungkin ada yang salah denganku karena mereka mulai tertawa setelah melihatku. Suara hujan makin deras, angin bertiup kencang sampai jendela-jendela dan pintu kaca bergetar. Andai saja kantor ini roboh, mungkin aku bisa liburan. Hahahahaha…….

08 Desember 2008 at 12:35 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Feeds

kata mereka…

Achmad suandana di Lubuklinggau
Abang Ojen di Lubuklinggau