Lubuklinggau-Palembang
Ada undangan menghadiri dua acara di kantor wilayah, pergi ke Palembang naik Panther jadi sopir seperti biasa. Ternyata memang tidak banyak orang yang mahir menyetir, tapi tidak mengapa ini lebih enak daripada harus naik sepeda motor.
Perjalanan dari Lubuklinggau ke Palembang normalnya ditempuh dalam waktu kira-kira lima jam perjalanan darat. Jalanan cukup sepi menyusuri pinggiran sungai Kelingi yang mengarah ke Musi. Jalanan beraspal datar, tidak banyak mobil yang lewat, dibandingkan di Jawa bisa dibilang sangat sepi. Sesekali kita bertemu dengan truk-truk pengangkut sawit, karet, atau pasir, bahkan kayu gelondongan.
Jalanan sampai dengan Sekayu adalah jalanan yang relatif rata, meski kalau anda rasakan pembangunan jalan ini belum serius. Masih banyak lubang “jebakan” di antara jalanan yang kelihatan mulus itu, ditambah gelombang-gelombang kecil di sepanjang jalan. Kalau anda meletakkan botol di dasbor mobil pasti tidak akan bertahan lama.
Paling berbahaya dari jalan ini selain lubang-lubang surprise adalah belokan tajam datar dan tanpa rambu. Belokan semestinya dibuat dengan derajat kemiringan tertentu dengan perhitungan fisika agar aman, tetapi kebanyakan belokan di sana dibuat datar bahkan ada beberapa yang kemiringannya keliru sehingga sangat berbahaya bagi yang melintas cepat. Kalau anda sopir baru atau belum mengenal daerah ini saya sarankan berhati-hatilah bila melihat tikungan. Dalam kecepatan 40 km/h saja mobil kami sudah berdecit keras.
Dibandingkan jalur ke Bengkulu yang jumlah tikungannya sangat banyak, meskipun sedikit tetapi tikungan di jalur ke Palembang ini relatif lebih berbahaya. Banyak bekas-bekas kecelakaan di sepanjang jalur ini dibandingkan yang ke Bengkulu.
Sampai dengan Sekayu jalan rata, selebihnya sampai ke Betung kita harus ekstra waspada. Oh, ya kalau ke Sekayu cobalah mampir ke kotanya. Arsitektur dan penataan kota yang sepi ini terlihat begitu modern dan cantik.
Jalanan Sekayu-Betung kurang bagus meski beraspal, waspada lubang mulai lubang kecil sampai yang seukuran mobil. Ini adalah setengah perjalanan yang paling melelahkan. Jangan kaget kalau anda tiba-tiba bertemu celeng seukuran anak sapi. Pastikan rem bekerja dengan baik. Anda mungkin bertemu dengan burung-burung unik, atau tiba-tiba ada monyet yang melintas jalanan.
Selain tikungan maut ada juga tanjakan maut, dimana jalanan itu menanjak landai dan turun lagi cukup halus. Kalau anda melamun mungkin mengira jalanan di depan itu sepi, padahal di puncaknya jalanan itu turun lagi menyembunyikan kendaraan yang mungkin ada di depan sana.
Lewat dari itu ada jalan pintas komplek perkantoran yang relatif lurus. Di jalan ini anda bisa merasakan kalau pada kecepatan tinggi mobil anda akan sering terbang karena jalanannya memang tidak benar-benar rata dan datar.
Sampai di Palembang bersyukur karena bisa sampai dengan selamat, kota ini terasa sumpek dengan kemacetan cukup tinggi dan tata kota yang agak membingungkan. Ga tau juga deh.
Beruntung malam itu Sandjaya masih ada kamar kosong, hujan deras dan angin kencang menyambut kami. Minggu ini sampai bulan Februari nanti adalah saat-saat yang melelahkan. Penjelasan langkah-langkah strategis dan berbagai petunjuk administrasi menambah daftar panjang pekerjaan rumah. Aku dengar ada perusahaan lain yang membayar bill kami di hotel, tapi aku tidak tahu pasti. Entahlah. Rasanya aku ingin berendam air panas sebentar….
1 comment 08 Desember 2008
Godaan Pandangan Pertama
Kemarin dapat tugas mengantar tamu ke bandara Fatmawati di Bengkulu. Hitung-hitung refreshing, berkeliling kota. Lumayan juga, namanya ibukota provinsi jadi fasilitas lumayan lebih lengkap daripada di Lubuklinggau. Ada Gramedia dan toko-toko besar meski sederhana.
Menuju pantai kami melintas di jalan utama kebetulan aku melihatnya di toko itu, sekilas saja, tapi setelah itu di sepanjang jalan aku selalu tergoda untuk memikirkannya. Aku hanya diam, perjalanan harus berlanjut, seperti rencana sebelumnya maka kami menuju pantai. Mencari ikan, melihat pemandangan dan mengunjungi benteng.
Menjelang tengah hari, mendekati jadwal keberangkatan sang tamu minta langsung diantar saja ke bandara daripada terlambat. Bandara Fatmawati seperti sebelum-sebelumnya penuh lalat berterbangan bebas di lantainya yang penuh mahluk hitam bersayap itu.
Melewati jalan yang tadi, sedikit memutar… dan kami tersesat tanpa petunjuk, meski jalannya cuma itu-itu saja ya nyasar juga akhirnya. Berputar-putar di jalanan yang sepi tidak sengaja lewat di depan toko yang tadi. Dia masih di sana, kali ini lampu merah jadi aku memandanginya lebih lama, benar-benar cantik. Ragu-ragu, tapi hasratku begitu menginginkannya.
“Aku mau mampir bentar, tunggu ya,” kami berbelok dan parkir tidak jauh di sana. Kami masuk ke toko itu, melihat-lihat sebentar. Melihatnya membuatku tersenyum-senyum sendiri.
“Berapa yang ini?” aku menunjuknya. Laki-laki pemilik toko itu buru-buru berdiri dan menghampiriku, mungkin dipikirnya aku serius.
“Ah, yang ini dua setengah, barang baru, memang lebih cantik,” katanya datar.
“Koq murah banget sih, tapi apa bisa kurang lagi?” kataku agak ragu.
“Wah, ini barang baru, Om, udah banyak yang cari dia, nanti nyesel loh.” Dia menggodaku.
Singkat cerita akhirnya kami membawanya dengan terios, mengikatnya di kursi belakang supaya tidak bergerak-gerak. Agak susah dengan tali terbatas.
Kebetulan saja belakangan sepeda pancal yang biasa aku bawa mencari rejeki itu sudah mulai renta. Beberapa onderdilnya sudah harus diganti, bodinya masih mulus tapi sudah tidak seimbang lagi. Akhirnya aku beli sepeda baru, United Exotic punya dua cakram dan full suspension dengan harga terjangkau. Sepeda yang cantik, meski tadinya aku sedang mengincar Wimcycle DX tapi yang ini boleh juga. Mungkin ini sudah jodoh, hehhehhehh…..
Add comment 08 Desember 2008
Hari ini mati lampu lagi…. (23 Oktober 2008)
Hari ini mati lampu lagi. Masih siang, jam kerja masih lama, tapi tanpa listrik aku tidak bisa banyak bekerja. Administrasi di kantor kami sekarang makin sedikit menggunakan kertas, tapi tanpa listrik langsung lumpuh.
Duduk di ruang depan di lantai dua kantor, di dekat tangga depan ada sebuah ruang rapat dengan jendela menghadap ke jalan. Hujan gerimis turun, untung saja, kalau tidak ruangan ini akan sangat panas tanpa kipas angin. Beberapa penjual durian dan rambutan masih menunggu pembeli di sepanjang jalan di depan sana. Tiga ribu rupiah untuk satu durian atau sekantung rambutan.
Durian hutan katanya paling enak dan punya cita rasa kuat, tapi aku tidak doyan buah yang satu ini. Harganya makin turun dan panen kali ini sepertinya melimpah. Musim buah-buahan sudah tiba. Beberapa temanku senang membelinya, satu karung tiap hari. Beberapa orang membawanya di motor, di tempat pijakan kaki belakang itu mereka mengikatkannya.
Merasa beruntung karena baru beli Axio Pico, netbook ini ringkas dan cukup lengkap jadi mudah dibawa jalan-jalan berburu hotspot dibandingkan Toshiba reguler yang bisa membuat punggungku keram. Kecuali pointernya yang agak susah diatur dan sering loncatt-loncat klak-klik sendiri, performa mini notebook ini cukup memuaskan. Cocok buatku kecuali untuk urusan game dan multimedia, speakernya mono dan tidak ada optik-drive, main EE2 juga patah-patah.
Awan mendung menutup langit, di kejauhan sana Bukit Sulap berkabut. Kalau kabutnya tebal dia bisa menghilang, seperti juga perbukitan lain di arah Padang Ulak Tanding. Beberapa ekor anjing asyik bercanda berkejaran dibawah guyuran gerimis. Sejauh mata memandang hamparan pohon kopi, bukit yang pudar, juga awan mendung yang pekat. Kilatan-kilatan petir berkelip-kelip, suaranya membahana dan bergema. Benar-benar tenang.
Kantor makin sepi, beberapa pegawai memanfaatkan waktu seperti ini untuk tidur di meja kerja atau dibawahnya. Sebagian lagi berkumpul untuk berdiskusi atau sekedar bergosip. Beberapa siswi praktikum tersenyum padaku, mungkin ada yang salah denganku karena mereka mulai tertawa setelah melihatku. Suara hujan makin deras, angin bertiup kencang sampai jendela-jendela dan pintu kaca bergetar. Andai saja kantor ini roboh, mungkin aku bisa liburan. Hahahahaha…….
Add comment 08 Desember 2008