Masyarakat dan Peradaban

Belakangan ini makin banyak penyimpangan yang aku lihat di sekitarku. Semakin aku tahu banyak tentang sesuatu, semakin banyak aku melihat kecurangan manusia.

Betapa tidak menariknya sifat rata-rata manusia yang biasa aku temui di keseharian. Kebiasaan untuk semaunya sendiri adalah sesuatu yang merugikan lebih banyak orang. Hanya sedikit orang yang bisa kita percaya, lebih banyak yang cuma mau mengambil keuntungan sepihak.

Sudah semakin bosan dengan segala tipuan, tidak ada yang produktif. Masyarakat yang sakit tidak akan menghasilkan budaya yang sehat. Saling merampas dan saling merugikan membuat kita tenggelam dalam perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Apakah tidak ada hal yang bisa membuat kita saling berinteraksi dengan saling menguntungkan?

Sejarah manusia adalah sejarah penindasan, katanya. Apakah kita tidak bisa merubahnya?

Sepertinya kedamaian dan kesejahteraan merata adalah mimpi, hanya angan-angan. Peradaban bisa lahir di tengah masyarakat yang mau mencari kebenaran, tapi bagi masyarakat yang sakit hal itu hanyalah omong kosong. Hal itu membuat mereka makin anarkis lalu mati perlahan-lahan seperti orang yang menghisap candu.

Mungkin pada akhirnya mereka akan sadar, dan sepertinya siklus ini sedang berada pada puncak kebusukan yang panjang. Ada yang beranggapan bahwa itu adalah satu dari banyak musim yang panjang. Konon pada jaman dahulu juga ada keadaan semacam ini dimana kerusakan terjadi di mana-mana, masyarakat kehilangan tatanan dan tidak memiliki panutan. Lalu muncullah pembaharu yang melahirkan peradaban baru, ada jangka waktu yang sangat panjang untuk mencapai kejayaan, kemudian menurun untuk kembali pada kehancuran yang sudah digariskan. Seperti siang dan malam, tapi bagi manusia itu lebih lama dari hidupnya.

Sepanjang sejarah manusia tercatat banyak takdir kelompok masyarakat. Peperangan, pertempuran, duel, perkelahian, pembunuhan, dan penindasan adalah hal yang paling banyak dituliskan. Perebutan kepentingan adalah tema utama sejarah.

Dunia semakin menyempit, semua suku bangsa yang dulunya tidak saling mengenal sekarang saling berhadapan. Kepentingan dan kerakusan akan membuat mereka saling berebut sumber daya yang semakin menipis.

……. ah…. arus masyarakat semakin kacau…. kaum intelektual yang tidak bertindak di tengah kekacauan telah kehilangan sisi kemanusiaannya… katanya. Bertindak….. bagaimana? Entahlah…… Banyak dari para pejuang yang dulunya memperjuangkan idealismenya telah berhianat. Mungkin itu sifat manusia. Entahlah.

Add comment 22 Juli 2008

Malam yang Indah

Dalam hidup ada banyak sekali pilihan. Hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan. Lalu dari setiap pilihan itu ada konsekuensinya masing-masing. Setiap manusia hidup dengan memilih, dan bertanggungjawab pada pilihannnya itu.

Pendapat yang masih aku yakini sampai sekarang. Itulah sebabnya rasa belas kasihan yang aku punya sangat sedikit….

Terkadang sebuah senyuman bisa membuatku bersemangat lagi.

………………………………………………… meski cuma orang miskin tapi buatku ini sudah cukup……… hidup ini indah kalau kita bisa menikmatinya………….. bulan purnama ditemani bintang-bintang dan udara malam yang segar…..

1 comment 20 Juli 2008

Gelisah

Selalu tentang mengeluh. Keseharian yang suntuk dengan beragam aktivitas mulai dari antar-jemput tamu pagi hari sampai main futsal malam hari.

Dulu aku kira jadi orang sibuk tu asik, selalu dicari orang dan dapat beragam fasilitas, mondar-mandir untuk urusan penting dan bisa masuk ke tempat-tempat khusus. Sekarang aku mengalami sebagian kehidupan itu dan mencicipi ini beberapa tahun saja sudah membuatku kehabisan semangat. Merangkap tugas tujuh orang sekaligus adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan… tapi hasilnya bagi hidupku sangat jelas… KEKACAUAN.

Sabtu siang ini aku sedikit santai, padahal Senin nanti aku mesti ikut penyusunan laporan keuangan… sedangkan bahannya belum siap sama sekali. Bosan mungkin bukan kata yang tepat, gelisah…. Aku gelisah.

Hampir tidak ada jeda dalam setiap kegiatan, sedangkan aku juga manusia yang ingin liburan menikmati sedikit ketenangan dalam arus yang kacau. Sudah empat tahun ini aku tidak bisa cuti, dari pagi sampai malam mulai Senin sampai Minggu. Banyak rencana yang harus dikerjakan… tapi tidak rencanaku sendiri.

Sedangkan pegawai yang lain sibuk pura-pura sibuk… mencari perhatian. Ah!!! Lalu aku bertanya ke mana kira-kira tujuan hidupku ini…..

Sepertinya membeli sebidang tanah untuk ditanami jagung dan sebuah rumah kecil cukup menarik… lagi-lagi aku mengigau. Mana ada perempuan yang mau jadi istriku kalau aku cuma punya gubug jerami, tanah sejengkal, dan segunung berondong….

Aku masih menunggu dan mencari kesempatan yang bisa membuatku keluar dari lingkaran keputus-asaan ini. Entah apa dan kapan itu datang.

1 comment 12 Juli 2008

Next Posts Previous Posts


Tulisan Terakhir

Tema

Kerjaan Melamun Persinggahan Tentang mereka Uncategorized

kata mereka

yee di Lubuklinggau
yee di Liburan Sejenak

Blogroll

favorit

hobi

komersial

Person