Posts filed under 'Tentang mereka'
Ini atau Itu? Maksudnya? (2)
Selalu membingungkan, itulah mereka. Rata-rata membuatku merasa bingung dan frustasi. Bertanya langsung pada mereka adalah hal yang sama sekali salah. Lebih baik menebak maksud mereka. Kata-kata mereka lebih sering tidak nyata.
Ada kalanya mereka begitu mudah dimengerti, tapi lebih sering mereka sangat abstrak.
Jawaban yang ambigu dan berputar-putar membuatku terdiam, pembicaraan jadi membosankan. Mereka selalu berpindah topik, tapi selalu bolak-balik dan kembali ke tempat yang sudah pernah kami bicarakan puluhan bahkan ratusan kali. Itu membuatku frustasi.
Sejak SMP sampai sekarang mereka selalu begitu, di manapun, siapa pun, rata-rata perempuan membingungkan. Pagi ini dia pinginnya pergi ke gunung, siangnya pingin ke kolam, sorenya pingin ke pantai, malamnya pingin ke mall. Hari ini pingin kita deket dan rewel bukan main, besok dia udah pura-pura sibuk dan gak mau bicara sama sekali.
Dia bilang ingin menemani kemanapun aku pergi, tapi dia itu manja dan aku tahu persis dia dan kebanyakan anak mami sejenis pasti sulit diajak susah. Bagaimana aku tidak ragu-ragu?
Segala pesona tentang mereka membuat kita berebut mengejar dan berusaha memikat hati tiap-tiap mereka dengan beragam cara. Kebanyakan orang yang aku sukai justru menyukai orang lain, tapi orang yang amat dekat dan mengejarku justru satu per satu aku tinggalkan. Begitu aku kehilangan mereka rasa sedih ini terasa makin hambar.
Aku selalu ragu, mereka tidak pernah membuatku percaya atau yakin. Inginnya aku cepat menikah, tapi interaksi langsung dengan mereka membuat keinginanku seketika lenyap. Meledak lalu padam lagi, setiap hari, setiap minggu. Mereka membuatku selalu ragu-ragu.
Mereka datang saat aku pergi, ketika aku mendekat mereka pergi.
Add comment 13 Oktober 2008
Jangan Katakan Rindu
Ada seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Seorang teman yang dulu pernah sangat mengerti tentang diriku. Perpisahan yang kami alami semua adalah keputusanku sendiri. Setelah dia menikah sudah sewajarnya kalau aku tidak lagi terlalu akrab dengannya.
Beberapa hari yang lalu kami bertemu secara kebetulan. Aku merasa terkejut melihatnya begitu kusut dan tidak bersemangat. Wajahnya pucat dan kelihatan lelah. Mungkin dia sedang sakit… dia menyapaku dari jauh setengah berteriak sambil melambaikan tangannya, tapi kemudian berbalik dan pergi sebelum aku sempat bicara banyak.
Kemarin hari ulang tahunnya, sebuah SMS pendek aku kirimkan hanya empat kata. Ingin aku memberinya anting-anting yang pernah kami lihat di sebuah toko perhiasan, tapi sebaiknya tidak, dia hanya boleh menerimanya dari orang lain.
Baru saja sebuah nomor rahasia menghubungiku, suaranya memanggilku. Ya, itu suaranya. Lama sekali dia menelepon, banyak cerita yang dia ucapkan. Kata-katanya mengalir deras seperti angin badai… aku bahkan tidak mengerti. Aku cuma bergurau dan sesekali bertanya. Mungkin itu bisa menghiburnya.
Sekali lagi dia berjanji tidak akan pernah mengganti nomornya itu jadi aku tetap bisa menghubunginya. Memang dulu aku pernah merajuk gara-gara kebiasaannya mengganti nomor, tapi itu dahulu sekali. Aku hanya bisa diam, sekarang aku sudah merelakan semuanya.
Biarlah yang sudah terjadi ini berlalu sudah. Apakah dia mengerti ataukah masih mengejar bayangan masa lalu itu aku tidak tahu lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Add comment 12 Juli 2008
Memilih Pasangan
Seorang teman kami baru saja menikah. Seperti pernikahan lain, tidak ada yang terlalu menarik untuk dibahas bagi kita orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Pernikahan adalah hal yang sudah biasa terjadi di sekitar kita.
Beberapa kali seorang teman lama selalu bertanya tentang dirinya, “memangnya aku kurang cantik ya?”
Entah apa arti pertanyaannya itu, tapi menurutku dia cukup menarik (paling tidak buatku).
Seperti temanku yang baru saja menikah itu, menurutku, dan seperti yang biasa kami bicarakan sambil lalu, wanita tidak selalu dikejar karena kecantikan semata. Buatku, saat ini, lebih penting wanita yang cerdas daripada sekedar cantik atau seksi. Dari sejumlah pengalaman belakangan ini buatku dekat dengan orang bodoh, termasuk wanita lebih banyak membawa masalah, baik jangka pendek maupun panjang.
Yah, obrolan yang sering muncul antara kami para bujang adalah kalau wanita cantik tanpa otak hanya cukup dinikmati sejenak. Alamiah kalau wanita cantik selalu digoda, tapi untuk berpikir menjalin hubungan serius mungkin lebih menarik wanita yang cerdas, yang kira-kira bisa menjaga keluarga dan tidak banyak ulah. Kebanyakan wanita yang aku “temukan” belakangan ini kurang menarik buatku bukan karena tidak cantik, tapi lebih karena tidak cerdas, ditambah sifat malas, dan beragam sifat buruk lain… tanpa bermaksud menghakimi.
Kebiasaan untuk melakukan hal bodoh yang berbahaya buat diri mereka sendiri benar-benar membuat kami kehilangan selera. Sekedar berteman sih boleh saja. Untuk bisa hidup bersama… maksudnya berkeluarga, rasanya aku lebih memilih yang aman dan nyaman saja. Tidak perlu cantik, asal fisik, mental, dan kebiasaannya sehat itu sudah cukup… tapi sepertinya makin sulit dicari saja.
Teman tersebut adalah seorang yang punya penampilan cukup menarik, semua mungkin setuju kalau dia disebut tampan, sementara istrinya biasa saja, tidak ada yang kelihatan istimewa. Usia istrinya lebih tua, bahkan mereka baru saja bertemu beberapa bulan ini. Pasti ada sesuatu yang menarik bagi teman kami itu, dan itu pasti bukan kecantikannya (aku rasa semua setuju).
Btw, belakangan ini kerjaan aku makin gak jelas aja… aneka macam tugas dan posisi campur aduk, jadwal dan berbagai jenis berkas berkumpul di sekitar ruang kerjaku. Mudah-mudahan badai cepat berlalu.
Add comment 20 Juni 2008