Posts filed under 'Tentang mereka'

Jangan Katakan Rindu

Ada seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Seorang teman yang dulu pernah sangat mengerti tentang diriku. Perpisahan yang kami alami semua adalah keputusanku sendiri. Setelah dia menikah sudah sewajarnya kalau aku tidak lagi terlalu akrab dengannya.

Beberapa hari yang lalu kami bertemu secara kebetulan. Aku merasa terkejut melihatnya begitu kusut dan tidak bersemangat. Wajahnya pucat dan kelihatan lelah. Mungkin dia sedang sakit… dia menyapaku dari jauh setengah berteriak sambil melambaikan tangannya, tapi kemudian berbalik dan pergi sebelum aku sempat bicara banyak.

Kemarin hari ulang tahunnya, sebuah SMS pendek aku kirimkan hanya empat kata. Ingin aku memberinya anting-anting yang pernah kami lihat di sebuah toko perhiasan, tapi sebaiknya tidak, dia hanya boleh menerimanya dari orang lain.

Baru saja sebuah nomor rahasia menghubungiku, suaranya memanggilku. Ya, itu suaranya. Lama sekali dia menelepon, banyak cerita yang dia ucapkan. Kata-katanya mengalir deras seperti angin badai… aku bahkan tidak mengerti. Aku cuma bergurau dan sesekali bertanya. Mungkin itu bisa menghiburnya.

Sekali lagi dia berjanji tidak akan pernah mengganti nomornya itu jadi aku tetap bisa menghubunginya. Memang dulu aku pernah merajuk gara-gara kebiasaannya mengganti nomor, tapi itu dahulu sekali. Aku hanya bisa diam, sekarang aku sudah merelakan semuanya.

Biarlah yang sudah terjadi ini berlalu sudah. Apakah dia mengerti ataukah masih mengejar bayangan masa lalu itu aku tidak tahu lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.


Add comment 12 Juli 2008

Memilih Pasangan

Seorang teman kami baru saja menikah. Seperti pernikahan lain, tidak ada yang terlalu menarik untuk dibahas bagi kita orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Pernikahan adalah hal yang sudah biasa terjadi di sekitar kita.

Beberapa kali seorang teman lama selalu bertanya tentang dirinya, “memangnya aku kurang cantik ya?”

Entah apa arti pertanyaannya itu, tapi menurutku dia cukup menarik (paling tidak buatku).

Seperti temanku yang baru saja menikah itu, menurutku, dan seperti yang biasa kami bicarakan sambil lalu, wanita tidak selalu dikejar karena kecantikan semata. Buatku, saat ini, lebih penting wanita yang cerdas daripada sekedar cantik atau seksi. Dari sejumlah pengalaman belakangan ini buatku dekat dengan orang bodoh, termasuk wanita lebih banyak membawa masalah, baik jangka pendek maupun panjang.

Yah, obrolan yang sering muncul antara kami para bujang adalah kalau wanita cantik tanpa otak hanya cukup dinikmati sejenak. Alamiah kalau wanita cantik selalu digoda, tapi untuk berpikir menjalin hubungan serius mungkin lebih menarik wanita yang cerdas, yang kira-kira bisa menjaga keluarga dan tidak banyak ulah. Kebanyakan wanita yang aku “temukan” belakangan ini kurang menarik buatku bukan karena tidak cantik, tapi lebih karena tidak cerdas, ditambah sifat malas, dan beragam sifat buruk lain… tanpa bermaksud menghakimi.

Kebiasaan untuk melakukan hal bodoh yang berbahaya buat diri mereka sendiri benar-benar membuat kami kehilangan selera. Sekedar berteman sih boleh saja. Untuk bisa hidup bersama… maksudnya berkeluarga, rasanya aku lebih memilih yang aman dan nyaman saja. Tidak perlu cantik, asal fisik, mental, dan kebiasaannya sehat itu sudah cukup… tapi sepertinya makin sulit dicari saja.

Teman tersebut adalah seorang yang punya penampilan cukup menarik, semua mungkin setuju kalau dia disebut tampan, sementara istrinya biasa saja, tidak ada yang kelihatan istimewa. Usia istrinya lebih tua, bahkan mereka baru saja bertemu beberapa bulan ini. Pasti ada sesuatu yang menarik bagi teman kami itu, dan itu pasti bukan kecantikannya (aku rasa semua setuju).

Btw, belakangan ini kerjaan aku makin gak jelas aja… aneka macam tugas dan posisi campur aduk, jadwal dan berbagai jenis berkas berkumpul di sekitar ruang kerjaku. Mudah-mudahan badai cepat berlalu.


Add comment 20 Juni 2008

Perempuan dan cerita lama

Belakangan ini kehidupan pribadiku penuh dengan yang namanya perempuan. Bukan berarti aku suka main perempuan, tapi mungkin takdir ini mempertemukan aku dengan mereka.

Sejak dulu sudah sering aku berteman dengan perempuan, mulai SD ada beberapa teman yang sering memberikan perhatian lebih. Tanpa bermaksud memamerkan ini, aku hanya merasa kalau itu memang sifat mereka. Entah apa perasaan mereka, selalu saja ada yang semacam itu di sekelilingku, mungkin semua laki-laki merasakan hal yang sama?

Semakin dewasa, sampai SMU dulu beberapa kata mesra yang aku dapatkan terkadang jadi kenangan yang manis. Sebagian mereka sekarang sudah berkeluarga, entah sebagian yang lain. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana harus bersikap, jadi aku cuma diam saja dan menunggu. Yah, mau bagaimana lagi?

Perubahan yang terasa adalah sejak aku kuliah, ketika pergaulan semakin luas dan kehidupan rumah jauh di seberang sana. Kendali terletak pada diri kita sendiri, dan segala godaan terbuka luas. Dari hubungan yang dulunya malu-malu dan terasa lucu untuk dikenang, hubungan di masa kuliah semakin serius dan jauh. Beberapa pertengkaran dan tangisan, ledakan emosi yang tinggi benar-benar nyata aku alami. Semua baru buatku, dan dalam banyak pilihan aku lebih banyak termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Dulu pertengkaran itu seperti hanya ada di sinetron dan film-film drama terasa cengeng dan menyebalkan, tapi ketika kita mengalaminya sendiri cukup sulit juga untuk mencari pilihan terbaik dari segala keterbatasan. Beberapa pertengkaran yang tidak aku mengerti kenapa bisa terjadi, tapi di depan sana aku melihat ada problem yang besar… masa depan.

Ya, masa depan itu menakutkan, apalagi masa depan yang suram gelap. Kepercayaan diri benar-benar ditantang dan aku lebih memilih diam, menunggu, dan ditinggalkan.

Baru saja aku bertengkar dengan seseorang yang belum lama ini aku kenal, tapi entah kenapa bisa begitu akrab. Aku tidak ingin satu orang temanku pun yang bisa kubuat jadi bersedih. Tapi entah kenapa sikapku bisa membuatnya menangis… aku sendiri tidak mengerti.

Kata-kata yang biasa aku terima, tapi selalu terasa pahit,”aku gak pernah berharap kamu suka sama aku, aku tau kamu gak bakalan suka sama aku, tapi kita masih bisa berteman kan?”

Aku tidak mengerti arti kata-kata semacam itu, dan kenapa bisa sampai terucapkan. Sudah sekian banyak yang berkata semacam itu, dan buatku semakin berat mendengarkannya. Seandainya hidup ini abadi, mungkin aku bisa bersama mereka selamanya …. Kata-kata itu lebih mirip kata “selamat tinggal, selamanya”.

Hubungan setelah itu jadi terasa dingin dan kaku.

Kata mereka harusnya aku merayunya. Harusnya aku tidak diam saja. Tapi dia bukan pilihanku, atau paling tidak tunggulah beberapa waktu lagi sampai aku siap. Jangan sekarang, terlalu cepat. Padahal kita baru saja saling mengenal, dan aku baru mulai menyukai suasana ini. Kenapa harus berakhir dengan keadaan seperti ini? Apa salahku? Kenapa kita tidak berteman seperti biasa saja dan sabarlah sampai aku terbiasa dengan duniamu.

Seperti bersin yang gagal, ada perasaan yang mengganjal. Mungkin cerita kami sudah selesai tanpa aku sempat sadar dan menikmatinya. Terlalu cepat, itu terlalu cepat.

Entah apa yang mereka sukai dari laki-laki seperti aku ini. Tidak ada yang istimewa. Bakat pun biasa saja. Orang bilang perhatian membuat wanita tergoda, dan aku lebih sering dingin pada mereka, sekali-sekali saja aku mendengar mereka. Pujian? Aku lebih sering mengejek dan menertawakan mereka. Hadiah? Aku cuma mencarikan titipan mereka kalau pergi ke toko, itupun minta tips. Wajah? Penampilanku seperti gembel, dekil dan lebih sering berkeringat.

Yah, mungkin saja semua lelaki sering merasakan kejadian ini, entahlah. Mungkin karena mereka –wanita– memang berbeda.

Apapun endingnya aku hanya berharap semoga mereka bahagia. Biarlah cerita-cerita konyol itu jadi kenangan masa lalu yang manis untuk dikenang, bukan cerita pahit nan menyakitkan. Janganlah bersedih selama kita masih punya harapan. Harapan ada sepanjang napas. Karenanya hiduplah dengan kuat.


4 comments 19 Mei 2008

Previous Posts


Tulisan Terakhir

Tema

Kerjaan Melamun Persinggahan Tentang mereka Uncategorized

kata mereka

yee di Lubuklinggau
yee di Liburan Sejenak

Blogroll

favorit

hobi

komersial

Person