Posts filed under 'Persinggahan'
Satu Bulan Itu Sebentar
Baru saja awal tahun ini pulang dari Bandar Lampung seminggu setelah itu ada panggilan ke Palembang. Bagiku amat melelahkan karena tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di sana.
Waktu aku belum bekerja dulu mengira betapa enaknya jadi orang sibuk dan punya jadwal yang padat. Bisa menginap di hotel mewah, punya banyak relasi, kemana-mana bawa tiga cellphone, dan tas berisi notebook dan dokumen-dokumen berharga….
Sejauh ini kenyataannya aku merasakan betapa pahitnya jadi orang seperti itu. Harus menahan diri dan hanya punya waktu sangat sedikit untuk diri sendiri. Lebih gawat kalau kita jadi orang di level bawah yang harus mengerjakan semuanya sendirian. Lebih lagi kalau dapat kawan yang tidak kooperatif.
Sejak pertama kali bekerja dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah dan beban kerja yang sedang-sedang saja, sekarang ini sudah beberapa kali lipat yang cukup untuk sewa rumah setahun, tapi aku jadi kehilangan banyak sekali waktu luang. Hampir lima tahun ini aku belum pernah bisa cuti, libur terbatas, dan setiap saat selalu cemas dengan gangguan telepon. Aku punya tiga nomor, tapi ketiganya lebih sering aku simpan di tas yang membuatnya penuh misscall dan sms.
Kemarin sempat beberapa kali menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Padahal dulu waktu SD aku sering menyewa kolam hotel untuk sekedar berenang sama teman-teman, tapi sekarang tidak ada waktu untuk mendekatin. Aku lebih sering di luar hotel, di ruang rapat, atau mengurung diri di kamar bersama notebook. Notebook berisi aplikasi-aplikasi yang membuatmu hampir frustasi dan nyaris gila sendiri.
Seminggu di Palembang yang aku kunjungi hanya Duta, J-CO, ruang rapat kanwil, aula, dan sejumlah teman lama. Acara selama seminggu tiap hari mulai pagi sampai larut malam dengan sejumlah jeda limabelas menit. Beberapa petugas dari inspektorat itu dulu temanku kuliahku di Jakarta, tapi beda nasib, sepertinya aku lebih beruntung dapat tempat tenang seperti Lubuklinggau meski harus bekerja dengan beberapa “bekicot” yang sangat lambat. Paling tidak aku bisa menikmati beberapa makanan enak juga donat dan coklat hangat. Seandainya saja para “bekicot” itu tidak buru-buru mengajak pulang tentu aku berencana menginap beberapa hari lagi di Palembang untuk liburan singkat.
Toh di jalan para “bekicot” itu bilang pelan-pelan saja padahal mereka dari hari pertama maunya cepat pulang dengan berbagai keluhan. Benar-benar birokrat ga berguna tu “bekicot”, nyusahin orang lain aja. Aku lebih setuju mereka dipotong satu-satu atau minimal dicopot dini aja biar beban negara ini berkurang.
2 comments 01 Februari 2009
Liburan di Lampung
Lubuklinggau-Lampung
Tahun baru kemarin dapat undangan resepsi pernikahan temen di Lampung, sekalian menikmati pergantian tahun kami berangkat ke Lampung naik mobil. Sebenarnya saya sudah sering mondar-mandir lewat lampung tapi untuk keliling kotanya memang belum pernah. Katanya ayah saya sih punya kebun cengkeh di Lampung, tapi beliau sendiri tidak pernah bercerita tentang itu. Kami sekeluarga bahkan tidak pernah diajak ke kota itu, selain jauh, beliau juga sibuk dan liburan pun lebih baik beristirahat saja di sekitar Malang. Perjalanan kami dari Lubuklinggau dimulai pagi hari sekitar jam tujuh beriringan tiga mobil Kuda, APV, dan Terios. Kuda di depan sebagai pemandu, sopirnya orang Lampung. APV di belakang penuh berisi manusia termasuk dua sopir yang sedang mengantuk. Sementara itu aku dan seorang teman naik Terios, dia tidak bisa menyetir jadi aku pegang kemudi sampai ke Lampung… mobil itu kosong… tidak ada yang berani jadi penumpangku….. Jalan ke arah Lampung melalui jalur tengah, seingat saya lewat Lahat, lalu Muara Enim, Baturaja, Martapura, Metro, terakhir Lampung. Jalan ini termasuk lancar, relatif sepi dan beraspal rata meskipun ada beberapa lubang menganga tapi masih termasuk bagus untuk Jalan Lintas Sumatera. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah hutan dan sungai, sangat berbeda dengan di Jawa yang didominasi rumah-rumah manusia. Lebar jalan kira-kira hanya empat mobil, banyak tikungan dan kontur jalan yang tergolong berbahaya. Tidak heran sepanjang perjalanan kami sering menjumpai kecelakaan “live” persis di sekitar kami. Paling tidak ada lima kecelakaan yang benar-benar kami lihat sendiri dalam perjalanan, syukur saja kami selamat. Ada motor yang saling beradu di depan kami, dua orang sekarat dan sepertinya langsung tewas sementara penumpangnya pingsan dengan beberapa ruas tulang yang sepertinya patah…. Ada lagi truk yang tiba-tiba menabrak pohon persis di depan pos polisi, ada lagi sepeda yang melawan arus lalu tiba-tiba ditabrak Panther sampai bemper depan mobil itu melayang, ada lagi bus yang terjungkir ke jurang…. singkatnya pemandangan mengerikan itu membuat sopir depan kami menjaga kecepatan pada angka 60 km/h…. membuat kami sampai di penginapan tepat tengah malam.
Di Kota
Bandar Lampung adalah kota yang ramai, tapi liburan itu sepertinya agak sepi. Kurang lebih seperti Palembang, seperti kota besar pada umumnya kota ini juga punya penyakit dalam tata kota yang berantakan dan kurang enak dinikmati. Hiburan kami adalah pantai pasir putih (pantai panjang seperti di Bengkulu), waterboom dan marina di sebuah komplek perumahan. Entah kenapa komplek ini sepi, padahal lokasinya bagus di pinggir laut dan punya dermaga kapal kecil… ada banana boat dan sejumlah kapal pribadi. Hiburan malam yang menggoda sudah menjerumuskan dua sopir kami dalam rasa kantuk yang hebat. Dalam perjalan itu hanya ada empat orang yang bisa menyetir termasuk aku, akibatnya kelompok kami terpecah dua jadi kelompok APV dan kelompok Terios. Kelompok APV yang belum pernah melihat kota dan hiburan malam nekat menguras tenaga pada acara-acaranya sendiri, sedangkan Terios memilih beristirahat dan menikmati hiburan bertema air dan laut yang ringan-ringan saja. Toh dalam keadaan ngantuk dan capek kita tidak bisa menikmati apa-apa.
Resepsi
Acara pernikahan teman kami itu berlangsung di masjid, resepsinya di aula masjid itu juga. Yah… mungkin itu ide yang bagus… praktis dan singkat. Kelompok Terios datang tepat waktu sejak akad nikah, sedangkan APV datang menjelang acara bubar, dengan mata mereka yang lelah.
Pulang
Setelah tiga hari di Bandar Lampung rasanya sebentar saja, seperti liburan yang sebelum-sebelumnya selalu saja ada yang terasa kurang. Setelah membeli oleh-oleh kopi dan pala dari pabrik Suseno, besoknya kami pulang. Kuda ke Jakarta, APV dan Terios pulang ke hutan. Kali ini Terios yang di depan, perjalanan lancar meski masih dihias sejumlah lakalantas di sekitar kami. Dengan kecepatan yang cukup kita bisa mencapai Lubuklinggau dalam waktu kurang dari sepuluh jam, kalau tidak ada yang berteriak-teriak ketakutan mungkin bisa kurang dari itu….. Tapi dari tahun ke tahun jalanan yang sempit itu makin ramai apalagi sepeda motor yang asal bisa pegang stang saja. Maghrib kami sudah sampai di Lubuklinggau.
Add comment 25 Januari 2009
Lubuklinggau-Palembang
Ada undangan menghadiri dua acara di kantor wilayah, pergi ke Palembang naik Panther jadi sopir seperti biasa. Ternyata memang tidak banyak orang yang mahir menyetir, tapi tidak mengapa ini lebih enak daripada harus naik sepeda motor.
Perjalanan dari Lubuklinggau ke Palembang normalnya ditempuh dalam waktu kira-kira lima jam perjalanan darat. Jalanan cukup sepi menyusuri pinggiran sungai Kelingi yang mengarah ke Musi. Jalanan beraspal datar, tidak banyak mobil yang lewat, dibandingkan di Jawa bisa dibilang sangat sepi. Sesekali kita bertemu dengan truk-truk pengangkut sawit, karet, atau pasir, bahkan kayu gelondongan.
Jalanan sampai dengan Sekayu adalah jalanan yang relatif rata, meski kalau anda rasakan pembangunan jalan ini belum serius. Masih banyak lubang “jebakan” di antara jalanan yang kelihatan mulus itu, ditambah gelombang-gelombang kecil di sepanjang jalan. Kalau anda meletakkan botol di dasbor mobil pasti tidak akan bertahan lama.
Paling berbahaya dari jalan ini selain lubang-lubang surprise adalah belokan tajam datar dan tanpa rambu. Belokan semestinya dibuat dengan derajat kemiringan tertentu dengan perhitungan fisika agar aman, tetapi kebanyakan belokan di sana dibuat datar bahkan ada beberapa yang kemiringannya keliru sehingga sangat berbahaya bagi yang melintas cepat. Kalau anda sopir baru atau belum mengenal daerah ini saya sarankan berhati-hatilah bila melihat tikungan. Dalam kecepatan 40 km/h saja mobil kami sudah berdecit keras.
Dibandingkan jalur ke Bengkulu yang jumlah tikungannya sangat banyak, meskipun sedikit tetapi tikungan di jalur ke Palembang ini relatif lebih berbahaya. Banyak bekas-bekas kecelakaan di sepanjang jalur ini dibandingkan yang ke Bengkulu.
Sampai dengan Sekayu jalan rata, selebihnya sampai ke Betung kita harus ekstra waspada. Oh, ya kalau ke Sekayu cobalah mampir ke kotanya. Arsitektur dan penataan kota yang sepi ini terlihat begitu modern dan cantik.
Jalanan Sekayu-Betung kurang bagus meski beraspal, waspada lubang mulai lubang kecil sampai yang seukuran mobil. Ini adalah setengah perjalanan yang paling melelahkan. Jangan kaget kalau anda tiba-tiba bertemu celeng seukuran anak sapi. Pastikan rem bekerja dengan baik. Anda mungkin bertemu dengan burung-burung unik, atau tiba-tiba ada monyet yang melintas jalanan.
Selain tikungan maut ada juga tanjakan maut, dimana jalanan itu menanjak landai dan turun lagi cukup halus. Kalau anda melamun mungkin mengira jalanan di depan itu sepi, padahal di puncaknya jalanan itu turun lagi menyembunyikan kendaraan yang mungkin ada di depan sana.
Lewat dari itu ada jalan pintas komplek perkantoran yang relatif lurus. Di jalan ini anda bisa merasakan kalau pada kecepatan tinggi mobil anda akan sering terbang karena jalanannya memang tidak benar-benar rata dan datar.
Sampai di Palembang bersyukur karena bisa sampai dengan selamat, kota ini terasa sumpek dengan kemacetan cukup tinggi dan tata kota yang agak membingungkan. Ga tau juga deh.
Beruntung malam itu Sandjaya masih ada kamar kosong, hujan deras dan angin kencang menyambut kami. Minggu ini sampai bulan Februari nanti adalah saat-saat yang melelahkan. Penjelasan langkah-langkah strategis dan berbagai petunjuk administrasi menambah daftar panjang pekerjaan rumah. Aku dengar ada perusahaan lain yang membayar bill kami di hotel, tapi aku tidak tahu pasti. Entahlah. Rasanya aku ingin berendam air panas sebentar….
1 comment 08 Desember 2008