Posts filed under 'Persinggahan'
Lubuklinggau, Suatu Kali Menjelang Pagi
Malam ini Lubuklinggau, tepatnya di perbatasan Bengkulu-Sumsel, di Kayuara udara sedang dingin-dinginnya. Tengah malam ini aku pulang kantor, menuruni jalanan gelap yang miring landai ke arah kota naik sepeda. Rasanya seperti udara di Malang waktu aku masih SMP dulu, sejuk, benar-benar nikmat untuk dihirup dalam-dalam.
Lampu halogen di sepanjang jalan Garuda banyak yang padam, sesekali ada kendaraan yang melintas dengan lampu jauh. Beberapa orang yang masih begadang duduk-duduk di halaman rumah mereka bercengkerama bersama. Ditengah kegelapan malam langit tampak indah, bulan terang, awan cirus putih berarak tipis, taburan bintang dalam rasi yang selalu sama. Langit hitam dalam keremangan cahaya bulan purnama selalu berkesan buatku. Sejak kecil hingga kini kulihat bagaikan keindahan yang abadi, hening dan tenang.
Kerinduanku pada langit malam yang dingin mengobati rasa lelah dan penat seharian. Ketika malam semua terasa tenang. Memandang langit yang indah, atau ketika hujan deras dengan suara gemuruh dan angin yang kencang adalah hal yang bisa membuatku merasa betah.
Dibandingkan Jakarta dan banyak kota besar lainnya, seringkali aku lebih bersyukur berada di kota kecil dan tenang seperti ini. Tempat dimana keindahan dan keramahan alam masih dekat dengan manusia.
4 comments 27 Maret 2008
Lubuklinggau lagi
Kira-kira sudah empat tahun aku di sini sejak 25-05-2005. Pertama kali datang ke kota kecil ini aku sendirian dengan modal uang tujuh ratus ribu rupiah. Naik bus dari Malang ke Jakarta, nyambung pesawat ke Palembang, terus naik Kereta dari stasiun Kertapati ke Lubuklinggau. Di stasiun aku naik ojek ke jalan Yos Sudarso, jalan utama kota ini.
Dari penginapan ke penginapan tanya-tanya harga, akhirnya dapet yang murah Rp20.000,- semalam. Waktu itu masih sepi, belum banyak motor seperti sekarang. Kagum juga waktu liat air selokan yang bening… -itu dulu, sekarang ini udah mampet dan bau-. Keliling kota jalan kaki, agak heran waktu liat ada panggung orgen tunggal (more…)
2 comments 20 Februari 2008
Lubuklinggau
Lubuklinggau, atau sering juga ditulis Lubuk Linggau adalah kota dimana sekarang ini saya tinggal dan bekerja (sekarang 12/01/2008).
Kota ini terletak di Sumatera Selatan, berbatasan darat langsung dengan Provinsi Bengkulu. Semboyan Sebiduk Semare kurang lebih berarti Satu Wadah untuk Satu Tujuan. Termasuk salah satu kota terbesar setelah Palembang di Sumsel, dan memiliki infrastruktur yang cukup lengkap seperti Rumah Sakit (dr. Sobirin), Universitas (Unimura), Stasiun Kereta Api, Lapangan Terbang, Gedung Olahraga, dsb. Ada sebuah bendungan ukuran sedang buatan tahun 1942 bernama Watrevaang yang memanfaatkan aliran Sungai Kelingi. Bendungan itu dibuat untuk irigasi sawah dan kebun di daerah Tugumulyo (Merasi), parit lebar itu mereka namakan Siring Agung.
Sejauh pengamatan saya, kota ini cukup ramai. Pertumbuhan kotanya terkonsentrasi di sepanjang jalan Yos Sudarso, jalan negara yang merupakan bagian dari Jalur Lintas Tengah Sumatera. Sebagian besar penduduknya adalah pendatang dari daerah lain atau keturunan transmigran Jawa. Saya belum tahu banyak tentang kebudayaan asli Lubuklinggau, tetapi ada sebuah permukiman kuno di jalan Moneng Sepati –dekat perkantoran pemkab– yang konon adalah permukiman penduduk asli kota ini.
Perdagangan, perkebunan, pertanian, dan peternakan adalah aktivitas utama penduduknya. Sarana transportasi tergolong monoton dan kurang teratur, banyak ojek dan jalur Angkot hanya ada tiga trayek. Akibatnya masyarakat cenderung membeli kendaraan sendiri-sendiri (terutama sejak revolusi pemasaran kredit motor) yang membuat jalanan jadi ramai dan sesak, kondisi yang amat menguntungkan pedagang motor (konon orang terkaya di kota ini). Etika dan pemahaman berlalulintas yang minim menyebabkan kecelakaan amat sering terjadi.
Pernah meraih penghargaan Adipura pada tahun 90-an, tapi kemudian tidak lagi. Penataan kota terkesan kurang serius karena perkembangan hanya dominan di sepanjang jalan utama. Padahal setahu saya selain jalan Yos Sudarso ada tiga jalan lain yang potensial untuk dikembangkan. Salah satunya adalah jalan Kenanga melewati Siring Agung yang menghubungkan Merasi dan Megang (salah satu jalanan yang paling saya sukai karena teduh, sejuk, dan aspalnya rata). Jalan lainnya adalah jalan alternatif (biasa untuk menghindari razia), satu blok dari Yos Sudarso mulai SMU 2 sampai Pasar Atas yang melewati Jalan Kelabat. Satu lagi jalan yang kurang diperhatikan adalah jalan dari Rahmah ke Pasar Atas yang melewati SMU 5 (jalan ini hancur). Jalan ini hampir sama dengan jalan yang menghubungkan Pasar Atas ke Terminal Tipe C di perbatasan Bengkulu, jalanannya hampir tertutup semak-semak.
Untuk mencapai Lubuklinggau ada banyak alternatif kendaraan umum yang bisa dipakai yaitu bus, travel, kereta, dan pesawat udara. Kalau dari Jakarta perjalanan darat kira-kira dua hari, dari Palembang lima sampai sembilan jam, dari Bengkulu tiga sampai lima jam. Btw… waktu aku ke sini Mei 2005 jarang ada peta yang mencantumkan nama kota ini. Kota ini biasanya dilewati oleh bus jurusan Jakarta-Bengkulu.
5 comments 20 Januari 2008