Posts filed under 'Melamun'
Rayuan dan Hati yang Ringan
Pernah seorang teman bertanya, kapan nikah. Pertanyaan yang jawabannya belum terpikirkan…. Sejauh ini aku masih menikmati kesendirianku. Belum ada yang cocok, alasan yang biasa aku sebutkan. Kalaupun ada yang cocok biasanya merekanya yang gak mau.
Yah, banyak laki-laki mengobral rayuan di luar sana. Banyak omong kosong yang ditebarkan dengan harapan meraih simpati dan menambah pesona. Buatku aku lebih suka jadi diriku sendiri… meski mereka bilang aku ga doyan perempuan, tapi yah, ini apa adanya diriku. Jujur aku tidak jatuh cinta kalau cuma kenal sekilas. Banyak wanita yang menarik di sekitar kita, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa bersama kita.
Satu demi satu mereka pergi, orang-orang yang katanya menanti dengan sabar… yah pergilah dulu biar aku tidak merasa bersalah, jangan menungguku lagi. Aku masih takut. Aku tidak yakin mereka bisa menerima kesusahan hidupku. Mereka selalu menganggapku hebat, dengan segala pujian yang selalu membuatku risau.
Tiada aku merayu mereka, apa adanya diriku ini maka mengertilah. Aku ingin mereka lihat semua kelemahanku, mengenalku lebih jauh tanpa meminta aku berubah jadi orang lain. Jika memang tidak ada dia, maka biarlah aku sendiri dengan sisa usiaku ini.
Untuk wanita-wanita yang pernah dekat denganku, maka selalu aku berpesan bahwa semua yang kulakukan dan kuberikan tiada aku meminta apa-apa. Sama seperti senyum yang biasa aku layangkan di kejauhan, cindera mata dan aneka benda yang pernah kuberikan itu hanya sekedarnya. Ada perasaan senang bisa memberinya, bukan aku ingin meraih hati mereka, sebatas senyuman di wajahnya pun sudah cukup. Kenanglah itu untuk masa-masa yang indah.
Kalau mereka memang ingin bersamaku, hanya kalau mereka benar-benar menerima sepenuhnya. Tiada rayuan atau kata manis yang akan aku ucapkan, mungkin hanya pertanyaan sambil lalu.
Tiada rasa cinta yang pernah aku rasakan hingga beban ini tidak seberat yang mungkin orang lain rasakan. Ibuku, ayahku, saudaraku, dan keluarga dekatku… merekalah orang-orang yang aku cintai. Merekalah yang melindungiku dan masih menerimaku dengan semua kegagalan yang pernah aku alami.
Aku belum pernah mencintai atau merasa memiliki wanita yang belum aku kenal, sekedar suka itu biasa, karenanya aku bebas.
2 comments 28 Juli 2008
Masyarakat dan Peradaban
Belakangan ini makin banyak penyimpangan yang aku lihat di sekitarku. Semakin aku tahu banyak tentang sesuatu, semakin banyak aku melihat kecurangan manusia.
Betapa tidak menariknya sifat rata-rata manusia yang biasa aku temui di keseharian. Kebiasaan untuk semaunya sendiri adalah sesuatu yang merugikan lebih banyak orang. Hanya sedikit orang yang bisa kita percaya, lebih banyak yang cuma mau mengambil keuntungan sepihak.
Sudah semakin bosan dengan segala tipuan, tidak ada yang produktif. Masyarakat yang sakit tidak akan menghasilkan budaya yang sehat. Saling merampas dan saling merugikan membuat kita tenggelam dalam perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Apakah tidak ada hal yang bisa membuat kita saling berinteraksi dengan saling menguntungkan?
Sejarah manusia adalah sejarah penindasan, katanya. Apakah kita tidak bisa merubahnya?
Sepertinya kedamaian dan kesejahteraan merata adalah mimpi, hanya angan-angan. Peradaban bisa lahir di tengah masyarakat yang mau mencari kebenaran, tapi bagi masyarakat yang sakit hal itu hanyalah omong kosong. Hal itu membuat mereka makin anarkis lalu mati perlahan-lahan seperti orang yang menghisap candu.
Mungkin pada akhirnya mereka akan sadar, dan sepertinya siklus ini sedang berada pada puncak kebusukan yang panjang. Ada yang beranggapan bahwa itu adalah satu dari banyak musim yang panjang. Konon pada jaman dahulu juga ada keadaan semacam ini dimana kerusakan terjadi di mana-mana, masyarakat kehilangan tatanan dan tidak memiliki panutan. Lalu muncullah pembaharu yang melahirkan peradaban baru, ada jangka waktu yang sangat panjang untuk mencapai kejayaan, kemudian menurun untuk kembali pada kehancuran yang sudah digariskan. Seperti siang dan malam, tapi bagi manusia itu lebih lama dari hidupnya.
Sepanjang sejarah manusia tercatat banyak takdir kelompok masyarakat. Peperangan, pertempuran, duel, perkelahian, pembunuhan, dan penindasan adalah hal yang paling banyak dituliskan. Perebutan kepentingan adalah tema utama sejarah.
Dunia semakin menyempit, semua suku bangsa yang dulunya tidak saling mengenal sekarang saling berhadapan. Kepentingan dan kerakusan akan membuat mereka saling berebut sumber daya yang semakin menipis.
……. ah…. arus masyarakat semakin kacau…. kaum intelektual yang tidak bertindak di tengah kekacauan telah kehilangan sisi kemanusiaannya… katanya. Bertindak….. bagaimana? Entahlah…… Banyak dari para pejuang yang dulunya memperjuangkan idealismenya telah berhianat. Mungkin itu sifat manusia. Entahlah.
Add comment 22 Juli 2008
Malam yang Indah
Dalam hidup ada banyak sekali pilihan. Hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan. Lalu dari setiap pilihan itu ada konsekuensinya masing-masing. Setiap manusia hidup dengan memilih, dan bertanggungjawab pada pilihannnya itu.
Pendapat yang masih aku yakini sampai sekarang. Itulah sebabnya rasa belas kasihan yang aku punya sangat sedikit….
Terkadang sebuah senyuman bisa membuatku bersemangat lagi.
………………………………………………… meski cuma orang miskin tapi buatku ini sudah cukup……… hidup ini indah kalau kita bisa menikmatinya………….. bulan purnama ditemani bintang-bintang dan udara malam yang segar…..
1 comment 20 Juli 2008