Baru Ingat

Ah, beberapa bulan lalu ada seorang teman yang kehilangan sesuatu. Kebetulan beberapa hari kamudian aku ditawari barang yang sepertinya dia inginkan. Sebenarnya sudah lama sekali, entah dia masih menginginkannya atau tidak.

Baru saja aku merapikan kamar dan menemukan kotak ini… baru ingat juga. Aku tidak tau dia akan senang atau justru sebaliknya mengira aku berniat macam-macam. Rasanya aku sendiri tidak terlalu yakin waktu membelinya, seperti tidak sengaja terbeli. Tak apalah, daripada tidak terpakai dan terbuang rasanya lebih baik aku berikan saja. Siapa tahu dia senang.

1 comment 01 Februari 2009

Satu Bulan Itu Sebentar

Baru saja awal tahun ini pulang dari Bandar Lampung seminggu setelah itu ada panggilan ke Palembang. Bagiku amat melelahkan karena tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di sana.

Waktu aku belum bekerja dulu mengira betapa enaknya jadi orang sibuk dan punya jadwal yang padat. Bisa menginap di hotel mewah, punya banyak relasi, kemana-mana bawa tiga cellphone, dan tas berisi notebook dan dokumen-dokumen berharga….

Sejauh ini kenyataannya aku merasakan betapa pahitnya jadi orang seperti itu. Harus menahan diri dan hanya punya waktu sangat sedikit untuk diri sendiri. Lebih gawat kalau kita jadi orang di level bawah yang harus mengerjakan semuanya sendirian. Lebih lagi kalau dapat kawan yang tidak kooperatif.

Sejak pertama kali bekerja dengan penghasilan dibawah satu juta rupiah dan beban kerja yang sedang-sedang saja, sekarang ini sudah beberapa kali lipat yang cukup untuk sewa rumah setahun, tapi aku jadi kehilangan banyak sekali waktu luang. Hampir lima tahun ini aku belum pernah bisa cuti, libur terbatas, dan setiap saat selalu cemas dengan gangguan telepon. Aku punya tiga nomor, tapi ketiganya lebih sering aku simpan di tas yang membuatnya penuh misscall dan sms.

Kemarin sempat beberapa kali menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Padahal dulu waktu SD aku sering menyewa kolam hotel untuk sekedar berenang sama teman-teman, tapi sekarang tidak ada waktu untuk mendekatin. Aku lebih sering di luar hotel, di ruang rapat, atau mengurung diri di kamar bersama notebook. Notebook berisi aplikasi-aplikasi yang membuatmu hampir frustasi dan nyaris gila sendiri.

Seminggu di Palembang yang aku kunjungi hanya Duta, J-CO, ruang rapat kanwil, aula, dan sejumlah teman lama. Acara selama seminggu tiap hari mulai pagi sampai larut malam dengan sejumlah jeda limabelas menit. Beberapa petugas dari inspektorat itu dulu temanku kuliahku di Jakarta, tapi beda nasib, sepertinya aku lebih beruntung dapat tempat tenang seperti Lubuklinggau meski harus bekerja dengan beberapa “bekicot” yang sangat lambat. Paling tidak aku bisa menikmati beberapa makanan enak juga donat dan coklat hangat. Seandainya saja para “bekicot” itu tidak buru-buru mengajak pulang tentu aku berencana menginap beberapa hari lagi di Palembang untuk liburan singkat.

Toh di jalan para “bekicot” itu bilang pelan-pelan saja padahal mereka dari hari pertama maunya cepat pulang dengan berbagai keluhan. Benar-benar birokrat ga berguna tu “bekicot”, nyusahin orang lain aja. Aku lebih setuju mereka dipotong satu-satu atau minimal dicopot dini aja biar beban negara ini berkurang.

2 comments 01 Februari 2009

Liburan di Lampung

Lubuklinggau-Lampung

Tahun baru kemarin dapat undangan resepsi pernikahan temen di Lampung, sekalian menikmati pergantian tahun kami berangkat ke Lampung naik mobil. Sebenarnya saya sudah sering mondar-mandir lewat lampung tapi untuk keliling kotanya memang belum pernah. Katanya ayah saya sih punya kebun cengkeh di Lampung, tapi beliau sendiri tidak pernah bercerita tentang itu. Kami sekeluarga bahkan tidak pernah diajak ke kota itu, selain jauh, beliau juga sibuk dan liburan pun lebih baik beristirahat saja di sekitar Malang. Perjalanan kami dari Lubuklinggau dimulai pagi hari sekitar jam tujuh beriringan tiga mobil Kuda, APV, dan Terios. Kuda di depan sebagai pemandu, sopirnya orang Lampung. APV di belakang penuh berisi manusia termasuk dua sopir yang sedang mengantuk. Sementara itu aku dan seorang teman naik Terios, dia tidak bisa menyetir jadi aku pegang kemudi sampai ke Lampung… mobil itu kosong… tidak ada yang berani jadi penumpangku….. Jalan ke arah Lampung melalui jalur tengah, seingat saya lewat Lahat, lalu Muara Enim, Baturaja, Martapura, Metro, terakhir Lampung. Jalan ini termasuk lancar, relatif sepi dan beraspal rata meskipun ada beberapa lubang menganga tapi masih termasuk bagus untuk Jalan Lintas Sumatera. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah hutan dan sungai, sangat berbeda dengan di Jawa yang didominasi rumah-rumah manusia. Lebar jalan kira-kira hanya empat mobil, banyak tikungan dan kontur jalan yang tergolong berbahaya. Tidak heran sepanjang perjalanan kami sering menjumpai kecelakaan “live” persis di sekitar kami. Paling tidak ada lima kecelakaan yang benar-benar kami lihat sendiri dalam perjalanan, syukur saja kami selamat. Ada motor yang saling beradu di depan kami, dua orang sekarat dan sepertinya langsung tewas sementara penumpangnya pingsan dengan beberapa ruas tulang yang sepertinya patah…. Ada lagi truk yang tiba-tiba menabrak pohon persis di depan pos polisi, ada lagi sepeda yang melawan arus lalu tiba-tiba ditabrak Panther sampai bemper depan mobil itu melayang, ada lagi bus yang terjungkir ke jurang…. singkatnya pemandangan mengerikan itu membuat sopir depan kami menjaga kecepatan pada angka 60 km/h…. membuat kami sampai di penginapan tepat tengah malam.

Di Kota

Bandar Lampung adalah kota yang ramai, tapi liburan itu sepertinya agak sepi. Kurang lebih seperti Palembang, seperti kota besar pada umumnya kota ini juga punya penyakit dalam tata kota yang berantakan dan kurang enak dinikmati. Hiburan kami adalah pantai pasir putih (pantai panjang seperti di Bengkulu), waterboom dan marina di sebuah komplek perumahan. Entah kenapa komplek ini sepi, padahal lokasinya bagus di pinggir laut dan punya dermaga kapal kecil… ada banana boat dan sejumlah kapal pribadi. Hiburan malam yang menggoda sudah menjerumuskan dua sopir kami dalam rasa kantuk yang hebat. Dalam perjalan itu hanya ada empat orang yang bisa menyetir termasuk aku, akibatnya kelompok kami terpecah dua jadi kelompok APV dan kelompok Terios. Kelompok APV yang belum pernah melihat kota dan hiburan malam nekat menguras tenaga pada acara-acaranya sendiri, sedangkan Terios memilih beristirahat dan menikmati hiburan bertema air dan laut yang ringan-ringan saja. Toh dalam keadaan ngantuk dan capek kita tidak bisa menikmati apa-apa.

Resepsi

Acara pernikahan teman kami itu berlangsung di masjid, resepsinya di aula masjid itu juga. Yah… mungkin itu ide yang bagus… praktis dan singkat. Kelompok Terios datang tepat waktu sejak akad nikah, sedangkan APV datang menjelang acara bubar, dengan mata mereka yang lelah.

Pulang

Setelah tiga hari di Bandar Lampung rasanya sebentar saja, seperti liburan yang sebelum-sebelumnya selalu saja ada yang terasa kurang. Setelah membeli oleh-oleh kopi dan pala dari pabrik Suseno, besoknya kami pulang. Kuda ke Jakarta, APV dan Terios pulang ke hutan. Kali ini Terios yang di depan, perjalanan lancar meski masih dihias sejumlah lakalantas di sekitar kami. Dengan kecepatan yang cukup kita bisa mencapai Lubuklinggau dalam waktu kurang dari sepuluh jam, kalau tidak ada yang berteriak-teriak ketakutan mungkin bisa kurang dari itu….. Tapi dari tahun ke tahun jalanan yang sempit itu makin ramai apalagi sepeda motor yang asal bisa pegang stang saja. Maghrib kami sudah sampai di Lubuklinggau.

Add comment 25 Januari 2009

Previous Posts


Feed

Tulisan Terakhir

Tema

Kerjaan Melamun Persinggahan Tentang mereka Uncategorized

kata mereka...

salim di Lubuklinggau
wong hanura di Lubuklinggau

Bike2Work

Blogroll

Favorit

Hardware Komputer

Hobi

Komersial & Referensi

Person

Software